Jika Anda pernah membaca The Lord of the Rings karya JRR Tolkien atau menonton film trilogi yang sama judulnya, Anda tentu ingat Pegunungan Berkabut di mana tokoh-tokoh cerita itu mengembara. Kekhawatiran, berbagai tekanan dan depresi dapat memburamkan lensa perasaan kita dengan kisah yang gelap dan berkabut dengan cara yang sama. Bahkan pada saat cahaya kasih Allah berusaha untuk menerobos masuk ke dalam relung hati kita, tebalnya kabut yang mengurung hati kita yang berbeban berat seakan tak bercelah.
Di manakah Tuhan pada saat kita merasa begitu bingung, pilu dan tersesat tak tahu arah? Santa Theresa dari Lisieux – yang sering menderita beban mental dan bahkan pernah mengalami Nervous Breakdown (krisis kejiwaan) sewaktu remaja – mencari Tuhan di dalam relung hatinya. Dalam kisah hidup yang ditulisnya sendiri, The Story Of A Soul, Theresa membuat perumpamaan tentang keadaan kejiwaannya sebagai ‘dilahirkan dan seumur hidup menetap di negeri yang berkabut.’ Iman menunjukkan padanya bahwa Yang Maha Kuasa, pencipta sinar mentari, berjalan di negeri kabut selama tiga puluh tahun untuk membimbing kita menuju cahaya. Santa Theresa menggambarkan masa – masa berada dalam kegelapan jiwa sebagai kehidupan dalam terowongan yang gelap. Walaupun demikian, meski ia terus berusaha berjuang mengalahkan kegelapan, ia selalu tampak tenang dan bahagia di hadapan biarawati–biarawati yang lain. Entah bagaimana, doa–doanya menjelma menjadi mercu suar yang memancarkan cahaya menembus negeri kabutnya.
Gerejani. Dogma. Kitab Suci. Pewartaan. Liturgi. Ajaran Sosial. Psikologi. Relasi.
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rohani. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Juni 2010
Omong-omong Pada Diri Sendiri
Jika Anda ingin menggabungkan semua kekuatan Anda dalam satu kata yang sederhana yang mudah diingat pikiran Anda, pilihlah suatu kata yang pendek. Dalam bahasa Indonesia kata yang pendek biasanya terdiri dari dua suku kata, misalnya : “Tuhan” atau “Kasih”. Itulah yang terbaik. Lalu tanamkan kata itu [dengan mengucapkannya berulang kali seperti mendars rosario], sehingga dalam keadaan apapun kata-kata itu tetap melekat dalam jiwa Anda. Kata ini akan menjadi benteng pertahanan Anda baik di masa konflik maupun di masa damai. Gunakan kata itu untuk mengusir awal kegelapan yang menyelimuti Anda dan untuk menghindar dari hal-hal yang mengganggu diri Anda.
(Yohanes dari Salib, The Cloud of Unknowing)
(Yohanes dari Salib, The Cloud of Unknowing)
Label:
Psikologi,
Rohani,
Sugesti Diri
Soal Kecemasan
Kita tidak mencari-cari kecemasan. Tetapi kecemasan itu adalah sesuatu yang wajar dalam semua bidang kehidupan kita, dan ketika kita sedang mengalaminya, ia menantang kita untuk semkin bertambah dewasa. Sepertinya kita ini murid yang lamban di dalam belajar memahami hidup, dan hal itu merupakan informasi yang baru bagi kebanyakan dari kita. Aku tak mau tumbuh dewasa jika di dalamnya ada hal-hal yang menimbulkan kecemasan! Namun mempelajari kebenaran itu akan merupakan berkat. Sepotong nasehat rohani itu merupakan tantangan setiap hari di dalam hidup, dan akan sangat membantu untuk mengatasi kecemasan yang biasanya dihindarkan tanpa ada perlunya. Nasehat itu juga mengajar supaya kita tidak takut pada penderitaan yang sedang bertambah.
Label:
Pendewasaan,
Psikologi,
Rohani
Pengingkaran atau Penyangkalan
Pengingkaran atau penyangkalan dalam kadar tertentu dialami setiap orang dan merupakan mekanisme bela diri yang kebanyakan dari kita tahu serba sedikit. Pengingkaran itu membuat kita lebih suka diam dan pelit dalam memberikan informasi. Dengan cara itu orang dapat terus menghayati sendiri apa yang tak diungkapkannya itu. Dalam beberapa situasi hidup, pengingkaran atau penyangkalan diperlukan agar orang mampu melewati situasi tertentu itu. Maka selalu ada pengingkaran atau penyangkalan pada kadar tertentu dalam diri semua orang, pada masa tertentu. Tetapi kalau pengingkaran itu terus menerus dilakukan sebagai cara menghindari kenyataan hidup, maka pengingkaran atau penyangkalan itu malahan bisa menjadi penyakit yang mengasingkan seseorang dari dirinya sendiri dan dari Allah. Pengingkaran atau penyangkalan lalu menjadi suatu proses memindahkan sepotong kecil pemahaman, dengan harapan bahwa hal itu lalu dapat menciptakan suatu gambaran yang lain. Pengingkaran semacam itu dilukiskan dalam sebagai “ketololan melakukan hal yang sama terus menerus dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang berbeda-beda.”
Langganan:
Postingan (Atom)
