Bagi Calon Penerima Komuni Pertama
Segala kemuliaan dan pujian
Kami lambungkan pada-Mu, ya Yesus,
di dalam Sakramen Tubuh dan Darah kudus ini.
Terangilah pikiran kami
supaya kami dapat memahami bahwa
Sakramen ini bukanlah sebuah benda
melainkan Anak Manusia,
Engkaulah Juru Selamat bagi kami, Imanuel,
yang setia menanti kami di sini dengan penuh kelembutan,
yang menginginkan kami dalam Sakramen ini
dengan segenap rasa cinta
dari Hati-Mu Yang Lemah Lembut,
memanggil kami untuk mendekat pada-Mu
dengan penuh rasa percaya.
Nyalakanlah kasih di dada kami
dengan kasih-Mu sendiri
sehingga
kasih kami kepada-Mu,
yang seringkali terasa dingin dan kurang rasa syukur,
semoga semakin lama kian berlimpah ruah
dengan kasih yang sempurna.
Dengarlah permohonan kami:
ajari kami untuk menghargai
hal–hal yang teramat berarti,
persatuan yang sempurna dengan-Mu
dalam segala hal
yang kami pikirkan, kami katakan, dan kami lakukan.
Semoga semua karunia yang Kaulimpahkan pada kami ini
Kaulimpahkan juga pada mereka yang menerima Komuni pertama
Pada Hari Raya Tubuh dan DarahMu nanti. Amin.
Gerejani. Dogma. Kitab Suci. Pewartaan. Liturgi. Ajaran Sosial. Psikologi. Relasi.
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Kamis, 03 Juni 2010
Negeri Kabut
Jika Anda pernah membaca The Lord of the Rings karya JRR Tolkien atau menonton film trilogi yang sama judulnya, Anda tentu ingat Pegunungan Berkabut di mana tokoh-tokoh cerita itu mengembara. Kekhawatiran, berbagai tekanan dan depresi dapat memburamkan lensa perasaan kita dengan kisah yang gelap dan berkabut dengan cara yang sama. Bahkan pada saat cahaya kasih Allah berusaha untuk menerobos masuk ke dalam relung hati kita, tebalnya kabut yang mengurung hati kita yang berbeban berat seakan tak bercelah.
Di manakah Tuhan pada saat kita merasa begitu bingung, pilu dan tersesat tak tahu arah? Santa Theresa dari Lisieux – yang sering menderita beban mental dan bahkan pernah mengalami Nervous Breakdown (krisis kejiwaan) sewaktu remaja – mencari Tuhan di dalam relung hatinya. Dalam kisah hidup yang ditulisnya sendiri, The Story Of A Soul, Theresa membuat perumpamaan tentang keadaan kejiwaannya sebagai ‘dilahirkan dan seumur hidup menetap di negeri yang berkabut.’ Iman menunjukkan padanya bahwa Yang Maha Kuasa, pencipta sinar mentari, berjalan di negeri kabut selama tiga puluh tahun untuk membimbing kita menuju cahaya. Santa Theresa menggambarkan masa – masa berada dalam kegelapan jiwa sebagai kehidupan dalam terowongan yang gelap. Walaupun demikian, meski ia terus berusaha berjuang mengalahkan kegelapan, ia selalu tampak tenang dan bahagia di hadapan biarawati–biarawati yang lain. Entah bagaimana, doa–doanya menjelma menjadi mercu suar yang memancarkan cahaya menembus negeri kabutnya.
Di manakah Tuhan pada saat kita merasa begitu bingung, pilu dan tersesat tak tahu arah? Santa Theresa dari Lisieux – yang sering menderita beban mental dan bahkan pernah mengalami Nervous Breakdown (krisis kejiwaan) sewaktu remaja – mencari Tuhan di dalam relung hatinya. Dalam kisah hidup yang ditulisnya sendiri, The Story Of A Soul, Theresa membuat perumpamaan tentang keadaan kejiwaannya sebagai ‘dilahirkan dan seumur hidup menetap di negeri yang berkabut.’ Iman menunjukkan padanya bahwa Yang Maha Kuasa, pencipta sinar mentari, berjalan di negeri kabut selama tiga puluh tahun untuk membimbing kita menuju cahaya. Santa Theresa menggambarkan masa – masa berada dalam kegelapan jiwa sebagai kehidupan dalam terowongan yang gelap. Walaupun demikian, meski ia terus berusaha berjuang mengalahkan kegelapan, ia selalu tampak tenang dan bahagia di hadapan biarawati–biarawati yang lain. Entah bagaimana, doa–doanya menjelma menjadi mercu suar yang memancarkan cahaya menembus negeri kabutnya.
Label:
Doa,
Kontemplasi,
Rohani
Langganan:
Postingan (Atom)
