St Agustinus adalah orang Afrika Utara dari suku Berber yang dilahirkan pada tahun 354 di Tagaste (sekarang Souk Ahras, Aljazair). Pada usia 11 tahun ia dikirim sekolah di Madaurus, suatu kota di sebelah selatan Tagaste. Ia gemar membaca sastra Latin dan memelajari kepercayaan dan praktek kafir, sebab ayahnya seorang kafir. Ketika usia 17 ia belajar di Kartago dan belajar filsafat dan retorika. Walaupun ibunya, Monika, mendidiknya secara katolik dan saleh, Agustinus meninggalkan gereja dan mengikuti agama Manikea, sehingga membuat ibunya putus asa. Agustinus muda hidup bersenang-senang, memiliki pacar bernama Floria Aemilia, dan mempunyai anak dengan dia, Adeodatus, yang mati muda. Ia pulang ke Tagaste dan menjadi guru sekolah dasar (373-374), lalu balik kembali ke Kartago dan mengajar retorika selama sembilan tahun. Pada tahun 383 ia pindah ke Roma dan mendirikan sekolah di sana, tapi usahanya gagal. Seorang teman lalu mengenalkan dia dengan prefek kota Roma, yang mengangkatnya menjadi guru di sekolah kekaisaran di Milano. Dari situ ia membangun suatu karir politik. Dalam suatu perjalanan untuk menyampaikan pidato di depan kaisar, seorang pengemis mabuk yang lewat di jalan memberi teguran kepadanya, bahwa hidupnya tiada berarti. Kejadian itu mengubah hidupnya.
Sudah sejak di Kartago ia kecewa dengan teolog agama Manikea dan mulai memisahkan diri. Ia sama sekali melepaskan diri dari kepercayaan Manikea ketika di Roma. Ketika ia pindah di Milano, Monika, ibunya menyusul dan mendesaknya agar kembali lagi ke dalam pelukan Gereja dan belajar agama katolik. Ia mendapat bimbingan dari St Ambrosius, uskup Milano, yang juga seorang ahli retorika, lebih tua dan lebih pengalaman. Namun ia masih belum meninggalkan sepenuhnya hidupnya yang berdosa dan sempat menunda-nunda, hingga dikenal dengan doanya: “Berikan padaku hidup pantang dan murni, tapi nanti dulu” (da mihi castitatem et continentiam, sed noli modo) – Konfesiones VIII, 7, 17).
Pada tahun 386 ia mempelajari riwayat hidup tokoh hidup membiara St Antonius dari Padang Gurun yang sangat besar pengaruhnya. Suatu pengalaman rohani menjadi titik balik hidupnya. Ketika berada di taman dia seolah mendengar suara seorang anak yang menyanyi dan seperti berkata: Tolle, lege (ambil dan bacalah). Ia meraih kitab suci yang ada di dekatnya dan secara acak membukanya, dan mendapatkan Surat Kepada Jemaat Roma 13: 13-14. Ia menjadi berubah seratus persen. Ia bertekat akan menjadi katolik dan dibaptis oleh Ambrosius; ia meninggalkan karirnya dalam hal retorika. Pada tahun 388 ia pulang kembali ke Afrika meninggalkan gagasan tentang hidup perkawinan dan menjual segala miliknya, kecuali rumah keluarga yang diubahnya menjadi biara yang didirikannya dengan beberapa teman untuk hidup selibat membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, dan pada tahun 391 ia ditahbis menjadi imam. Ia menjadi pengkhotbah ulung, dan pada tahun 396 ia diangkat menjadi Uskup ko-ajutor di Hippo, dan kemudian menjadi uskup penuh menggantikan uskup Hippo yang wafat. Jabatan itu disandangnya sampai ia wafat pada tahun 430. Ia mewariskan Regula, yaitu aturan hidup membiara yang menjadi pedoman umum yang besar pengaruhnya pada berbagai ragam biara-biara hingga sekarang.
Beberapa perkataan/nasehat Agustinus yang terkenal dan sering direnungkan:
"Kasihilah orang pendosa tapi bencilah dosa" (Cum dilectione hominum et odio vitiorum) (Opera Omnia, II. 962, 211).
"Serba berlebihan atau ekses adalah musuh Tuhan" (Luxuria est inimica Dei.)
"Hati berbicara dengan hati" (Cor ad cor loquitur)
"Yang menjadi pemenang hanyalah kebenaran, dan kebenaran yang jaya adalah kasih" (Victoria veritatis est caritas}
"Menyanyi sama dengan berdoa dua kali" (Qui cantat, bis orat)
"Laksanakan kasih, dan lakukan apa yang kamu inginkan" (Dilige et quod vis fac)
"God, O Lord, grant me the power to overcome sin. For this is what you gave to us when you granted us free choice of will. If I choose wrongly, then I shall be justly punished for it. Is that not true, my Lord, of whom I indebted for my temporal existence? Thank you, Lord, for granting me the power to will my self not to sin.” (Free Choice of the Will, Book One)
"Kristuslah Guru yang ada dalam diri kita” (De Magistro - 11:38)
"Dengarkan pihak yang lain" (Audi partem alteram) De Duabus Animabus, XlV ii
"Ambil dan bacalah" (Tolle, lege) Confessions, VIII, 12
"Bagi banyak orang, berpuasa sama sekali (karena tidak ada yang harus dinikmati) itu jauh lebih mudah dari pada menahan diri (menghadapi kenikmatan yang tersedia)." (Multi quidem facilius se abstinent ut non utantur, quam temperent ut bene utantur. –
"Harapan punya dua anak cantik. Namanya Amarah dan Keberanian. Amarah ada pada jalan yang biasa-biasa saja, tetapi Keberanian mau mengambil jalan lain yang luar biasa." (dikutip dalam William Sloane Coffin, The Heart Is a Little to the Left)
Gerejani. Dogma. Kitab Suci. Pewartaan. Liturgi. Ajaran Sosial. Psikologi. Relasi.
Sabtu, 28 Agustus 2010
Minggu, 08 Agustus 2010
Yohanes Baptista Maria Vianney
Pastor di suatu desa kecil, Ars, di Perancis, yang dalam hidupnya ia berkarya selama 40 tahun pada masa Revolusi Perancis. Pada 4 Agustus 1859 ia wafat, dan pada 5 Januari 1905 dimintakan beatifikasi. Pada Mei 1925 ia dinyatakan sebagai orang kudus, pelindung “para imam, gembala jiwa-jiwa di seluruh dunia”, oleh Paus Pius XI.
Pada 1 Agustus 1959, dalam rangka menyambut 100 tahun wafatnya YM Vianney, Paus Yohanes XXIII menerbitkan ensiklik Primarii Nostri Sacerdoti mengenai imam dan teladan St Yohanes Maria Vianney. Menurut beliau St Yohanes Maria Vianney adalah pribadi yang menarik dan praktis mendorong hidup imamat hingga setinggi-tingginya, sebagai sahabat-sahabat Kristus Tuhan (art 7). Maria Vianney merupakan teladan dalam hal semangat pastoral, devosi doa, dan ketekunannya dalam sakramen pengampunan, dan menjadi model asketisme dan kesalehan, khususnya dalam devosi kepada Ekaristi (art 9).
Ia mengikuti nasehat-nasehat Injil dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, dengan bersikap keras pada dirinya sendiri, tetapi lembut pada orang lain (art 11), mengingatkan para imam bahwa “diperlukan kesucian batin yang lebih besar daripada yang dituntut oleh status hidupnya sebagai rohaniwan”, juga sekalipun sebagai imam diosesan (Praja) yang untuk itu memerlukan kerjasama dengan Ordo religius yang direstui Gereja (art 12). Mengikuti sabda Guru Ilahi, “Jika seseorang hendak mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku”, pastor dari Ars yang suci itu menerapkan sabda itu dalam tindakannya sehari-hari (art 13). Dalam hal kemiskinan, imam yang rendah hati dari Ars itu menjadi anggota Ordo Ketiga St Fransiskus Asisi dengan mengikuti peraturannya dengan setia. Ia merelakan apa saja untuk orang lain dan tidak menyimpan sesuatu bagi dirinya sendiri (art 14). Kebebasannya dari harta benda duniawi membuatnya bersungguh-sungguh di dalam menolong kaum miskin, terutama di dalam parokinya sendiri, dengan kasih yang besar, dengan kebaikan hati yang tulus, dan dengan menghormati mereka. Karena ia melakukan pantang dan puasa setiap hari, jika ada pengemis mengetuk pintunya, ia menerima mereka dengan senang dan dapat berkata ‘Aku juga hidup dalam kekurangan; aku sama dengan Anda’. Dan kepada orang yang akan mati ia berkata, ‘Aku akan bahagia jika boleh mati sekarang, sebab aku tidak punya apa-apa; maka jika Tuhan dalam kebaikanNya menganggap tepat untuk memanggilku, aku sudah siap dan akan berangkat.’ (art 15). Mengingat Maria Vianney itu, Pius XI menyatakan: “imam-imam yang hidupnya bersahaja dan mengikuti ajaran Injil dengan mengesampingkan kepentingannya sendiri niscaya mendatangkan berkat manfaat bagi lebih banyak umat (art 16). Sebaliknya, pastor dari Ars itu juga menyuarakan kecaman keras pada zamannya: “Ada banyak orang menyembunyikan uang mereka, sementara sesamanya banyak yang mati kelaparan.” Namun ini tidak berarti bahwa imam tidak boleh mempunyai uang untuk keperluan hidupnya, dan karena setiap pekerja harus mendapatkan upah yang adil, para imam juga harus mendapatkan santunan sepantasnya untuk pekerjaannya (art 19).
Dalam hal kemurnian Yohanes Maria Vianney juga menjadi teladan para imam di tengah zaman yang terinfeksi oleh moralitas yang longgar dan hawa nafsu yang tak pernah puas. Dengan latihan-latihan pantang dan puasa ia menempa tubuhnya sendiri bagaikan atlet Kristus, namun sekaligus menunjukkan kelembutan pada mereka yang datang kepadanya. Melalui sakramen tobat ia terus menerus mengendalikan hasrat-hasrat yang tidak murni. “Hanya langkah-langkah pertama saja yang sulit bagi siapapun yang akan menempuh jalan ini,” katanya (art 24). Dalam keyakinannya “Hanya jiwa yang murni saja yang dapat mengasihi orang lain, setelah ia sendiri menemukan sumber kasih...yaitu Tuhan” maka menurut Maria Vianney, kasih imamat seharusnya mengalir dari Hati Kudus Yesus (art 25).
Dalam hal ketaatan Maria Vianney menjadi teladan dalam ketekunannya melaksanakan imamat melayani umat di desa kecil Ars selama 40 tahun. Sebenarnya ia lebih suka hidup menyendiri sebagai pertapa. Tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Ia diajar untuk melaksanakan tugas yang diberikan uskup dengan setia sebagai pelayan umat hingga wafatnya (art 27-28). Sehubungan dengan itu Paus Pius XII menulis: “Kesucian hidup dan efektivitas kerasulan apapun mendapatkan dasar dan dukungan dari ketaatan yang tetap dan setia kepada pemimpin gereja.” (art 30). Melalui ketaatan itu imam tidak bekerja sendiri, melainkan di dalam persaudaraan dengan yang lain dalam ikatan mesra dengan Bunda Gereja, saling menguatkan (art 31-34).
Suatu hal yang juga mencolok pada Pastor dari Ars ini adalah kehidupan doanya. “Para imam terhambat mendapatkan kesucian karena tak memberikan kesempatan yang luas pada dirinya untuk memikirkan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Kita memerlukan renungan yang mendalam, dalam doa dan persekutuan yang mesra dengan Tuhan.” Betapapun sibuknya, Maria Vianney dikatakan “tidak pernah lupa berwawancara dengan Tuhan.” (art 37). Bagi dia “Kita adalah peminta-minta yang harus memohon apa saja dari Tuhan”. “Doa yang bersungguh-sungguh kepada Tuhan merupakan kebahagiaan manusia di dunia” (art 38).
Dalam rangka peringatan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, Paus Benediktus XVI menyatakan tahun 2009 sebagai Tahun Imam, dan para imam diajak bercermin kembali kepada teladan-teladan Santo Yohanes Maria Vianney.
Pernyataan Kasih St Yohanes Maria Vianney
I love You, O my God and my sole desire is to love You until the last breath of my life.
I love You, O infinitely lovable God and I prefer to die loving You than live one instant without loving You.
I love You, O my God, and I do not desire anything but heaven so as to have the joy of loving You perfectly.
I love You, O my God, and I fear hell, because there will not be the sweet consolation of loving You.
O my God, if my tongue cannot say in every moment that I love You, I want my heart to say it in every beat. Allow me the grace to suffer loving You, to love you suffering and one day to die loving You and feeling that I love You. And as I approach my end, I beg you to increase and perfect my love of You.
Aku mencintai Dikau, ya Tuhanku, dan hasratku adalah hanya mengasihi Dikau sampai napas terakhirku.
Aku mencintai Dikau, O Tuhanku yang sangat terkasih, dan aku lebih suka mati dengan mengasihi Dikau, daripada hidup tanpa mengasihi Dikau.
Aku mencintai Dikau, Tuhan, dan hanya surga yang kuharapkan, supaya aku mempunyai kegembiraan untuk mengasihi Dikau dengan sempurna.
Aku mencintai Dikau, ya Tuhan, dan aku takut neraka, karena di sana tidak ada manisnya cinta dalam kasih padaMu.
Tuhanku, jika lidahku tak mampu mengucapkan setiap saat betapa aku cinta pada Dikau, semoga hatiku berulang-ulang menyatakan kasihku pada-Mu seiring tarikan napasku. Berilah aku rahmat penderitaan demi kasih kepadaMu, untuk mengasihi Engkau dengan menderita dan suatu hari mati dengan mengasihi Dikau dan menyadari bahwa Aku mencitai Dikau. Dan jika hari akhirku semakin dekat, kumohon tambahkanlah dan sempurnakanlah cintaku kepadaMu.
Pada 1 Agustus 1959, dalam rangka menyambut 100 tahun wafatnya YM Vianney, Paus Yohanes XXIII menerbitkan ensiklik Primarii Nostri Sacerdoti mengenai imam dan teladan St Yohanes Maria Vianney. Menurut beliau St Yohanes Maria Vianney adalah pribadi yang menarik dan praktis mendorong hidup imamat hingga setinggi-tingginya, sebagai sahabat-sahabat Kristus Tuhan (art 7). Maria Vianney merupakan teladan dalam hal semangat pastoral, devosi doa, dan ketekunannya dalam sakramen pengampunan, dan menjadi model asketisme dan kesalehan, khususnya dalam devosi kepada Ekaristi (art 9).
Ia mengikuti nasehat-nasehat Injil dalam hal kemiskinan, kemurnian dan ketaatan, dengan bersikap keras pada dirinya sendiri, tetapi lembut pada orang lain (art 11), mengingatkan para imam bahwa “diperlukan kesucian batin yang lebih besar daripada yang dituntut oleh status hidupnya sebagai rohaniwan”, juga sekalipun sebagai imam diosesan (Praja) yang untuk itu memerlukan kerjasama dengan Ordo religius yang direstui Gereja (art 12). Mengikuti sabda Guru Ilahi, “Jika seseorang hendak mengikut Aku, ia harus menyangkal diri, memikul salibnya dan mengikut Aku”, pastor dari Ars yang suci itu menerapkan sabda itu dalam tindakannya sehari-hari (art 13). Dalam hal kemiskinan, imam yang rendah hati dari Ars itu menjadi anggota Ordo Ketiga St Fransiskus Asisi dengan mengikuti peraturannya dengan setia. Ia merelakan apa saja untuk orang lain dan tidak menyimpan sesuatu bagi dirinya sendiri (art 14). Kebebasannya dari harta benda duniawi membuatnya bersungguh-sungguh di dalam menolong kaum miskin, terutama di dalam parokinya sendiri, dengan kasih yang besar, dengan kebaikan hati yang tulus, dan dengan menghormati mereka. Karena ia melakukan pantang dan puasa setiap hari, jika ada pengemis mengetuk pintunya, ia menerima mereka dengan senang dan dapat berkata ‘Aku juga hidup dalam kekurangan; aku sama dengan Anda’. Dan kepada orang yang akan mati ia berkata, ‘Aku akan bahagia jika boleh mati sekarang, sebab aku tidak punya apa-apa; maka jika Tuhan dalam kebaikanNya menganggap tepat untuk memanggilku, aku sudah siap dan akan berangkat.’ (art 15). Mengingat Maria Vianney itu, Pius XI menyatakan: “imam-imam yang hidupnya bersahaja dan mengikuti ajaran Injil dengan mengesampingkan kepentingannya sendiri niscaya mendatangkan berkat manfaat bagi lebih banyak umat (art 16). Sebaliknya, pastor dari Ars itu juga menyuarakan kecaman keras pada zamannya: “Ada banyak orang menyembunyikan uang mereka, sementara sesamanya banyak yang mati kelaparan.” Namun ini tidak berarti bahwa imam tidak boleh mempunyai uang untuk keperluan hidupnya, dan karena setiap pekerja harus mendapatkan upah yang adil, para imam juga harus mendapatkan santunan sepantasnya untuk pekerjaannya (art 19).
Dalam hal kemurnian Yohanes Maria Vianney juga menjadi teladan para imam di tengah zaman yang terinfeksi oleh moralitas yang longgar dan hawa nafsu yang tak pernah puas. Dengan latihan-latihan pantang dan puasa ia menempa tubuhnya sendiri bagaikan atlet Kristus, namun sekaligus menunjukkan kelembutan pada mereka yang datang kepadanya. Melalui sakramen tobat ia terus menerus mengendalikan hasrat-hasrat yang tidak murni. “Hanya langkah-langkah pertama saja yang sulit bagi siapapun yang akan menempuh jalan ini,” katanya (art 24). Dalam keyakinannya “Hanya jiwa yang murni saja yang dapat mengasihi orang lain, setelah ia sendiri menemukan sumber kasih...yaitu Tuhan” maka menurut Maria Vianney, kasih imamat seharusnya mengalir dari Hati Kudus Yesus (art 25).
Dalam hal ketaatan Maria Vianney menjadi teladan dalam ketekunannya melaksanakan imamat melayani umat di desa kecil Ars selama 40 tahun. Sebenarnya ia lebih suka hidup menyendiri sebagai pertapa. Tetapi Tuhan tidak mengizinkannya. Ia diajar untuk melaksanakan tugas yang diberikan uskup dengan setia sebagai pelayan umat hingga wafatnya (art 27-28). Sehubungan dengan itu Paus Pius XII menulis: “Kesucian hidup dan efektivitas kerasulan apapun mendapatkan dasar dan dukungan dari ketaatan yang tetap dan setia kepada pemimpin gereja.” (art 30). Melalui ketaatan itu imam tidak bekerja sendiri, melainkan di dalam persaudaraan dengan yang lain dalam ikatan mesra dengan Bunda Gereja, saling menguatkan (art 31-34).
Suatu hal yang juga mencolok pada Pastor dari Ars ini adalah kehidupan doanya. “Para imam terhambat mendapatkan kesucian karena tak memberikan kesempatan yang luas pada dirinya untuk memikirkan apa yang sesungguhnya harus dilakukan. Kita memerlukan renungan yang mendalam, dalam doa dan persekutuan yang mesra dengan Tuhan.” Betapapun sibuknya, Maria Vianney dikatakan “tidak pernah lupa berwawancara dengan Tuhan.” (art 37). Bagi dia “Kita adalah peminta-minta yang harus memohon apa saja dari Tuhan”. “Doa yang bersungguh-sungguh kepada Tuhan merupakan kebahagiaan manusia di dunia” (art 38).
Dalam rangka peringatan 150 tahun wafatnya Santo Yohanes Maria Vianney, Paus Benediktus XVI menyatakan tahun 2009 sebagai Tahun Imam, dan para imam diajak bercermin kembali kepada teladan-teladan Santo Yohanes Maria Vianney.
Pernyataan Kasih St Yohanes Maria Vianney
I love You, O my God and my sole desire is to love You until the last breath of my life.
I love You, O infinitely lovable God and I prefer to die loving You than live one instant without loving You.
I love You, O my God, and I do not desire anything but heaven so as to have the joy of loving You perfectly.
I love You, O my God, and I fear hell, because there will not be the sweet consolation of loving You.
O my God, if my tongue cannot say in every moment that I love You, I want my heart to say it in every beat. Allow me the grace to suffer loving You, to love you suffering and one day to die loving You and feeling that I love You. And as I approach my end, I beg you to increase and perfect my love of You.
Aku mencintai Dikau, ya Tuhanku, dan hasratku adalah hanya mengasihi Dikau sampai napas terakhirku.
Aku mencintai Dikau, O Tuhanku yang sangat terkasih, dan aku lebih suka mati dengan mengasihi Dikau, daripada hidup tanpa mengasihi Dikau.
Aku mencintai Dikau, Tuhan, dan hanya surga yang kuharapkan, supaya aku mempunyai kegembiraan untuk mengasihi Dikau dengan sempurna.
Aku mencintai Dikau, ya Tuhan, dan aku takut neraka, karena di sana tidak ada manisnya cinta dalam kasih padaMu.
Tuhanku, jika lidahku tak mampu mengucapkan setiap saat betapa aku cinta pada Dikau, semoga hatiku berulang-ulang menyatakan kasihku pada-Mu seiring tarikan napasku. Berilah aku rahmat penderitaan demi kasih kepadaMu, untuk mengasihi Engkau dengan menderita dan suatu hari mati dengan mengasihi Dikau dan menyadari bahwa Aku mencitai Dikau. Dan jika hari akhirku semakin dekat, kumohon tambahkanlah dan sempurnakanlah cintaku kepadaMu.
Senin, 02 Agustus 2010
Digiling dan Diremukkan, Sebagai Bulir-bulir Gandum
Ketika di dalam Misa kita merenungkan kisah kurban Yesus (dalam Doa Syukur Agung, pusat liturgi), kita mengalami “kehadiran nyata” dari peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus, dan kita ikut serta di dalamnya. Bagaimana caranya? Kita ikut serta dalam kurban Yesus bagi kita itu jika kita seperti Dia, membiarkan diri kita diremukkan, jika kita seperti Dia tidak lagi menjadi diri kita sendiri. Ekaristi sebagai kurban mengundang kita menjadi seperti bulir-bulir gandum yang digunakan untuk membuat hosti, dan butir-butir buah anggur untuk membuat minuman anggur, dipreteli dan digiling, sehingga kita menjadi bagian dari hosti komuni dan anggur dalam cawan kurban.
Kadang-kadang ketika membagikan komuni Santo Agustinus tidak berkata, “Tubuh Kristus,” melainkan “Terimalah dirimu.”
Ia menyatakan sesuatu yang tepat. Yang terjadi dalam Ekaristi menurut St Agustinus ialah bahwa kita semua, dengan mempersembahkan diri sebagai kurban atas segala sesuatu yang mencerai-beraikan kita, tentulah juga menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Lebih dari sekedar roti dan anggur, kita semua harus berubah dengan seluruh hakekat kita. Ekaristi sebagai kurban, meminta kita menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan piala kerentanan kita. (Ronald Rolheiser OMI. Terjemahan Bambang Kuss)
Kadang-kadang ketika membagikan komuni Santo Agustinus tidak berkata, “Tubuh Kristus,” melainkan “Terimalah dirimu.”
Ia menyatakan sesuatu yang tepat. Yang terjadi dalam Ekaristi menurut St Agustinus ialah bahwa kita semua, dengan mempersembahkan diri sebagai kurban atas segala sesuatu yang mencerai-beraikan kita, tentulah juga menjadi Tubuh dan Darah Kristus.
Lebih dari sekedar roti dan anggur, kita semua harus berubah dengan seluruh hakekat kita. Ekaristi sebagai kurban, meminta kita menjadi roti yang dipecah-pecahkan dan piala kerentanan kita. (Ronald Rolheiser OMI. Terjemahan Bambang Kuss)
Sabtu, 31 Juli 2010
St Alfonsus Liguori
Alfonsus Liguori (1696-1787), advokat dari Milan yang gagal dalam kerja dan kemudian beralih menjadi imam; dalam masa hidupnya Gereja memperkenalkan pesta devosi rosario (1716), doa sapta kedukaan (1724), dan Doa Angelus (Doa Malaikat Allah) pada 1724 (pada Masa Paus Benediktus XIII) dan 1742 (pada masa Paus Benediktus XIV); pada usia 66 tahun ia menjadi uskup dan kemudian pujangga Gereja, ia mendirikan tarekat imam Congregatio Sanctissimi Redemptoris, CSsR (1732), yang sejak 1956 bekerja di Indonesia juga, terutama di Keuskupan Weetebula (Sumba dan Sumbawa).
Cuplikan beberapa doa St Alfonsus Liguori kepada Yesus:
Hati Yesus yang penuh belas kasih, kasihanilah aku. Bahkan sebelum aku berdosa kepadaMu, O Penebusku, aku tidak layak menerima rahmat begitu besar yang Kau berikan kepadaku. Engkau telah menciptakan aku, memberiku begitu banyak keinginan dan sungguh tak layak aku menerima semuanya itu. Namun setelah berdosa padaMu, aku bukan saja tak pantas Engkau tolong, aku justru pantas tidak Engkau perhatikan selamanya. Namun Engkau sungguh rahim, Engkau menunggu aku dan tetap menjaga hidupku sekalipun di waktu aku memusuhi Dikau. Kerahimanmu membuatku melihat deritaku dan Engkau memanggil aku agar bertobat; Engkau memberikan kepadaku rasa sedih atas dosa-dosaku dan suatu hasrat untuk mengasihi Dikau. Aku sangat berharap dengan pertolongan rahmatMu, aku dapat menjadi sahabatMu lagi. (Frederick M. Jones CSsR, Saint Alphonsus de Liguori: Selected Writings, 1999, hal 232).
O sakramen kasih, entah memberikan diriMu sendiri dalam komuni, entah tinggal bertahta di altar, Engkaulah yang paling tahu bagaimana dengan kasihMu yang lembut Engkau menarik begitu banyak hati kepada Dikau, mereka yang terpikat kepadaMu, penuh kekaguman memandang kasih yang sedemikian, dinyalakan oleh sukacita, dan selalu memikirkan Dikau; sangat merindukan kasihMu, hidup menghamba pada cintaMu. Aku pun, kini dan seterusnya, menyerahkan semua minatku, semua harapanku, semua perasaanku, seluruh jiwaku, segenap ragaku, --- kuserahkan ke dalam tangan-tangan kebaikanMu. Terimalah aku, O Tuhan, dan gunakan aku sesuka Tuhan (The Complete Works of Saint Alphonsus, karya suntingan Eugene Grimm C.Ss.R, volume 6, Redemptorist Fathers, 1927, hal 149-150)
Cuplikan beberapa doa St Alfonsus Liguori kepada Yesus:
Hati Yesus yang penuh belas kasih, kasihanilah aku. Bahkan sebelum aku berdosa kepadaMu, O Penebusku, aku tidak layak menerima rahmat begitu besar yang Kau berikan kepadaku. Engkau telah menciptakan aku, memberiku begitu banyak keinginan dan sungguh tak layak aku menerima semuanya itu. Namun setelah berdosa padaMu, aku bukan saja tak pantas Engkau tolong, aku justru pantas tidak Engkau perhatikan selamanya. Namun Engkau sungguh rahim, Engkau menunggu aku dan tetap menjaga hidupku sekalipun di waktu aku memusuhi Dikau. Kerahimanmu membuatku melihat deritaku dan Engkau memanggil aku agar bertobat; Engkau memberikan kepadaku rasa sedih atas dosa-dosaku dan suatu hasrat untuk mengasihi Dikau. Aku sangat berharap dengan pertolongan rahmatMu, aku dapat menjadi sahabatMu lagi. (Frederick M. Jones CSsR, Saint Alphonsus de Liguori: Selected Writings, 1999, hal 232).
O sakramen kasih, entah memberikan diriMu sendiri dalam komuni, entah tinggal bertahta di altar, Engkaulah yang paling tahu bagaimana dengan kasihMu yang lembut Engkau menarik begitu banyak hati kepada Dikau, mereka yang terpikat kepadaMu, penuh kekaguman memandang kasih yang sedemikian, dinyalakan oleh sukacita, dan selalu memikirkan Dikau; sangat merindukan kasihMu, hidup menghamba pada cintaMu. Aku pun, kini dan seterusnya, menyerahkan semua minatku, semua harapanku, semua perasaanku, seluruh jiwaku, segenap ragaku, --- kuserahkan ke dalam tangan-tangan kebaikanMu. Terimalah aku, O Tuhan, dan gunakan aku sesuka Tuhan (The Complete Works of Saint Alphonsus, karya suntingan Eugene Grimm C.Ss.R, volume 6, Redemptorist Fathers, 1927, hal 149-150)
Label:
1 Agustus,
Alfonsus Liguori,
Doa Kepada Yesus
Jumat, 16 Juli 2010
Kasih Dalam Kebenaran art 16-17
Kasih dalam Kebenaran (16)
(Caritas In Veritate)
Ensiklik Paus Benediktus XVI
Terjemahan oleh Bambang Kuss
16. Dalam Ensiklik Populorum Progressio, Paulus VI mengajarkan bahwa kemajuan, pada asal-usul dan hakekatnya, adalah pertama-tama dan terutama suatu panggilan: “Dalam rencana Allah setiap orang dipanggil untuk berkembang dan memenuhi diri sendiri, sebab setiap kehidupan adalah suatu panggilan tugas” (PP 15). Inilah yang memberikan hak yang sah kepada keterlibatan Gereja dalam seluruh permasalahan perkembangan. Jika perkembangan hanya berhubungan dengan aspek teknis dari hidup manusia, dan tidak menyangkut makna perjalanan hidup manusia melalui sejarah bersama-sama dengan sesamanya, tidak pula memperlihatkan tujuan perjalanan itu, maka Gereja tidak berhak membicarakannya. Paulus VI seperti Leo XIII sebelumnya dalam Ensiklik Rerum Novarum (Bdk PP 2; Leo XIII, Ensiklik Rerum Novarum; Yohanes Paulus II, Sollicitudo Rei Socialis, 8, dan Centessimus Annus 5) tahu, bahwa ia melaksanakan kewajiban yang berkait dengan jabatannya untuk memancarkan terang Injil atas masalah-masalah sosial pada zamannya (Bdk PP 2, 13).
Memandang perkembangan sebagai panggilan tugas adalah sama dengan mengakui bahwa hal itu berasal dari panggilan ilahi di satu pihak, dan bahwa hal itu sendiri tidak mampu memberikan makna yang tertinggi dari dirinya sendiri. Ada alasannya bahwa kata “panggilan” juga terdapat dalam alinea lain Ensiklik Populorum Progressio, yang berbunyi: “Humanisme yang sejati terarah kepada Allah dan sadar akan panggilan tugas yang memberikan makna yang sebenarnya kepada hidup manusia” (PP 42). Visi perkembangan ini merupakan jantung Ensiklik Populorum Progressio, dan menjadi latar belakang di balik renungan Paulus VI atas kebebasan, atas kebenaran dan atas kasih di dalam perkembangan. Semua itu juga tetap menjadi alasan pokok mengapa Ensiklik itu masih relevan di zaman kita.
Teks Latin:
16. In Litteris encyclicis Populorum progressio Paulus VI imprimis nobis demonstrare voluit progressionem sua scaturigine essentiaque quandam esse vocationem: « Ex divino consilio, quilibet homo ad sui ipsius profectum promovendum natus est, cum cuiusvis hominis vita ad munus aliquod a Deo destinetur » [N. 15: l.m., 265.]. Hoc quidem ipsum id comprobat quod in progressionis quaestionibus agit Ecclesia. Si technicae rationes in hominis vita considerarentur ac minime sane commune cum ceteris fratribus eiusdem in historia iter neque designata eiusdem itineris meta conspicerentur, non haberet Ecclesia ius hac loquendi de re. Paulus VI, perinde ac olim Leo XIII in Litteris encyclicis Rerum novarum [Cfr ibid., 2: l.m. 258; Leo XIII, Litt. enc. Rerum novarum (15 Maii 1891): Leonis XIII P.M. Acta, XI, Romae 1892, 97-144; Ioannes Paulus II, Litt. enc. Sollicitudo rei socialis, 8: l.m., 519-520; Id., Litt. enc. Centesimus annus, 5: l.m., 799.], sibi erat conscius se suas partes tueri, cum Evangelii in quaestiones suae aetatis sociales lumen effunderet [Cfr Litt. enc. Populorum progressio, 2. 13: l.m., 258. 263-264.].
Cum quis progressionem vocationem appellat, ille agnoscere vult hinc eandem ex transcendenti quadam postulatione oriri atque illinc non habere ipsam facultatem sui ipsius ultimam significationem praebendi. Non sine causa « vocationis » verbum in altero etiam loco est adhibitum, ubi dicitur: « Vera igitur humanitatis species non est nisi ea quae ad summum Deum intendit, dum munus agnoscitur ad quod sumus vocati et quo vera vitae humanae forma praebetur » [Ibid., 42: l.m., 278.]. Argumentum hoc progressionis est Litterarum encyclicarum Populorum progressio cardo et universas Pauli VI cogitationes de libertate, de veritate et in progressu de caritate comprobat. Praecipua etiam est ratio, qua Litterae encyclicae illae nostrae aetati accommodantur.
Kasih dalam Kebenaran (17)
(Caritas In Veritate)
Ensiklik Paus Benediktus XVI
Terjemahan oleh Bambang Kuss
17. Suatu panggilan tugas menuntut jawaban yang bebas dan bertanggungjawab. Perkembangan manusia yang utuh mengandaikan kebebasan yang bertanggungjawab dari umat manusia dan perorangan: tidak ada struktur yang dapat menjamin perkembangan ini melampaui dan di atas kemampuan manusia untuk memberi jawaban (=melampaui kemampuan manusia dalam memikul tanggungjawab). “Berbagai ragam paham mengenai penyelamat (mesianisme) yang memberi janji-janji namun menciptakan ilusi” (Bdk PP 11, Centessimus Annus 25) selalu timbul dari penyangkalan atas dimensi transenden (ilahi) dari perkembangan, dan dari keyakinan bahwa perkembangan itu sepenuhnya terletak di tangan mereka. Jaminan palsu ini menjadi suatu cacat, karena menyusutkan manusia menjadi budak, menjadi alat belaka demi perkembangan, sementara kerendahan hati mereka yang menerima panggilan diubah menjadi otonomi yang sejati, karena panggilan itu membebaskan mereka. Paulus VI pasti yakin bahwa hambatan dan bentuk-bentuk ajaran seperti itu menghalangi perkembangan, tetapi ia juga yakin bahwa “tidak pedulu bagaimanapun pengaruh yang diterimanya, setiap orang tetap menjadi penanggungjawab keberhasilan atau kegagalannya sendiri” (PP 15). Kebebasan ini menyangkut macam perkembangan yang sedang kita bahas, tetapi juga berkenaan dengan situasi-situasi keterbelakangan yang tidak seharusnya terjadi, atau berbagai keharusan historis yang dibebankan menjadi tanggungjawab manusia. Inilah sebabnya “bangsa-bangsa yang mengalami kelaparan mengarahkan himbauan yang dramatis kepada bangsa-bangsa yang mendapat karunia kelimpahan” (PP 3). Ini juga merupakan suatu panggilan, himbauan bantuan yang berasal dari manusia yang merdeka kepada sesamanya yang merdeka atas pra-anggapan mengenai tanggungjawab bersama. Paulus VI sangat memahami pentingnya struktur-struktur dan pranata ekonomi, namun beliau juga memahami dengan sama jelasnya hakekat struktur dan pranata itu sebagai alat perlengkapan bagi kebebasan manusia. Hanya jika berdasar kebebasan maka perkembangan itu seutuhnya manusiawi; hanya jika dalam iklim kebebasan yang bertanggungjawab maka perkembangan akan bertumbuh dengan memuaskan.
Teks Latin:
17. Vocatio postulatio est quaedam, quae liberam consciamque responsionem requirit. Humana integraque progressio libertatem personae populorumque responsalem complectitur: nulla quidem structura hanc progressionem praestare potest, extra supraque humanam responsalitatem. « Quidam magnificis sed dolosis eorum pollicitationibus vehementer inescantur, qui se veluti alteros Messias iactant » [Ibid., 11: l.m., 262; cfr Ioannes Paulus II, Litt. enc. Centesimus annus, 25: l.m., 822-824.]. Eorum consilia in denegata significatione progressionis transcendenti nituntur, cum prorsus ii confidant omnia sibi commodari. Fallax haec confidentia fit infirmitas, quandoquidem hominis servitutem efficit, qui progressionis fit instrumentum, dum suscipiendae cuiusdam vocationis humilitas vera fit autonomia, quoniam personam liberam reddit. Nulla fuit Paulo VI dubitatio quin progressioni impedimenta condicionesque obessent, sed hoc etiam pro explorato habebat: « Unusquisque, quantumcumque apud eum valent externae sollicitationes, sortis suae prosperae vel infelicis praecipuus artifex exstat » [Litt. enc. Populorum progressio, 15: l.m., 265.]. Libertas haec ob oculos positum provectum respicit ac simul ad tardi progressus condiciones attinet, quae non casu atque quandam propter historiae necessitatem oriuntur, sed ex humana responsalitate pendent. Quapropter « fame laborantes populi hodie divitiis praepollentes populos miserabili quadam voce compellant » [Ibid., 3: l.m., 258.]. Haec per verba homines liberi appellant, scilicet invocant, homines liberos ad responsalitatem communiter sumendam. Paulus VI plane intellexit structurarum oeconomicarum institutionumque pondus, sed ipse pariter earum naturam instrumentorum humanae libertatis liquido comprehendit. Solummodo si liber est, progressus integre humanus adest; solummodo regimine vigente responsalis libertatis, progressus aequabiliter augescere potest.
(Caritas In Veritate)
Ensiklik Paus Benediktus XVI
Terjemahan oleh Bambang Kuss
16. Dalam Ensiklik Populorum Progressio, Paulus VI mengajarkan bahwa kemajuan, pada asal-usul dan hakekatnya, adalah pertama-tama dan terutama suatu panggilan: “Dalam rencana Allah setiap orang dipanggil untuk berkembang dan memenuhi diri sendiri, sebab setiap kehidupan adalah suatu panggilan tugas” (PP 15). Inilah yang memberikan hak yang sah kepada keterlibatan Gereja dalam seluruh permasalahan perkembangan. Jika perkembangan hanya berhubungan dengan aspek teknis dari hidup manusia, dan tidak menyangkut makna perjalanan hidup manusia melalui sejarah bersama-sama dengan sesamanya, tidak pula memperlihatkan tujuan perjalanan itu, maka Gereja tidak berhak membicarakannya. Paulus VI seperti Leo XIII sebelumnya dalam Ensiklik Rerum Novarum (Bdk PP 2; Leo XIII, Ensiklik Rerum Novarum; Yohanes Paulus II, Sollicitudo Rei Socialis, 8, dan Centessimus Annus 5) tahu, bahwa ia melaksanakan kewajiban yang berkait dengan jabatannya untuk memancarkan terang Injil atas masalah-masalah sosial pada zamannya (Bdk PP 2, 13).
Memandang perkembangan sebagai panggilan tugas adalah sama dengan mengakui bahwa hal itu berasal dari panggilan ilahi di satu pihak, dan bahwa hal itu sendiri tidak mampu memberikan makna yang tertinggi dari dirinya sendiri. Ada alasannya bahwa kata “panggilan” juga terdapat dalam alinea lain Ensiklik Populorum Progressio, yang berbunyi: “Humanisme yang sejati terarah kepada Allah dan sadar akan panggilan tugas yang memberikan makna yang sebenarnya kepada hidup manusia” (PP 42). Visi perkembangan ini merupakan jantung Ensiklik Populorum Progressio, dan menjadi latar belakang di balik renungan Paulus VI atas kebebasan, atas kebenaran dan atas kasih di dalam perkembangan. Semua itu juga tetap menjadi alasan pokok mengapa Ensiklik itu masih relevan di zaman kita.
Teks Latin:
16. In Litteris encyclicis Populorum progressio Paulus VI imprimis nobis demonstrare voluit progressionem sua scaturigine essentiaque quandam esse vocationem: « Ex divino consilio, quilibet homo ad sui ipsius profectum promovendum natus est, cum cuiusvis hominis vita ad munus aliquod a Deo destinetur » [N. 15: l.m., 265.]. Hoc quidem ipsum id comprobat quod in progressionis quaestionibus agit Ecclesia. Si technicae rationes in hominis vita considerarentur ac minime sane commune cum ceteris fratribus eiusdem in historia iter neque designata eiusdem itineris meta conspicerentur, non haberet Ecclesia ius hac loquendi de re. Paulus VI, perinde ac olim Leo XIII in Litteris encyclicis Rerum novarum [Cfr ibid., 2: l.m. 258; Leo XIII, Litt. enc. Rerum novarum (15 Maii 1891): Leonis XIII P.M. Acta, XI, Romae 1892, 97-144; Ioannes Paulus II, Litt. enc. Sollicitudo rei socialis, 8: l.m., 519-520; Id., Litt. enc. Centesimus annus, 5: l.m., 799.], sibi erat conscius se suas partes tueri, cum Evangelii in quaestiones suae aetatis sociales lumen effunderet [Cfr Litt. enc. Populorum progressio, 2. 13: l.m., 258. 263-264.].
Cum quis progressionem vocationem appellat, ille agnoscere vult hinc eandem ex transcendenti quadam postulatione oriri atque illinc non habere ipsam facultatem sui ipsius ultimam significationem praebendi. Non sine causa « vocationis » verbum in altero etiam loco est adhibitum, ubi dicitur: « Vera igitur humanitatis species non est nisi ea quae ad summum Deum intendit, dum munus agnoscitur ad quod sumus vocati et quo vera vitae humanae forma praebetur » [Ibid., 42: l.m., 278.]. Argumentum hoc progressionis est Litterarum encyclicarum Populorum progressio cardo et universas Pauli VI cogitationes de libertate, de veritate et in progressu de caritate comprobat. Praecipua etiam est ratio, qua Litterae encyclicae illae nostrae aetati accommodantur.
Kasih dalam Kebenaran (17)
(Caritas In Veritate)
Ensiklik Paus Benediktus XVI
Terjemahan oleh Bambang Kuss
17. Suatu panggilan tugas menuntut jawaban yang bebas dan bertanggungjawab. Perkembangan manusia yang utuh mengandaikan kebebasan yang bertanggungjawab dari umat manusia dan perorangan: tidak ada struktur yang dapat menjamin perkembangan ini melampaui dan di atas kemampuan manusia untuk memberi jawaban (=melampaui kemampuan manusia dalam memikul tanggungjawab). “Berbagai ragam paham mengenai penyelamat (mesianisme) yang memberi janji-janji namun menciptakan ilusi” (Bdk PP 11, Centessimus Annus 25) selalu timbul dari penyangkalan atas dimensi transenden (ilahi) dari perkembangan, dan dari keyakinan bahwa perkembangan itu sepenuhnya terletak di tangan mereka. Jaminan palsu ini menjadi suatu cacat, karena menyusutkan manusia menjadi budak, menjadi alat belaka demi perkembangan, sementara kerendahan hati mereka yang menerima panggilan diubah menjadi otonomi yang sejati, karena panggilan itu membebaskan mereka. Paulus VI pasti yakin bahwa hambatan dan bentuk-bentuk ajaran seperti itu menghalangi perkembangan, tetapi ia juga yakin bahwa “tidak pedulu bagaimanapun pengaruh yang diterimanya, setiap orang tetap menjadi penanggungjawab keberhasilan atau kegagalannya sendiri” (PP 15). Kebebasan ini menyangkut macam perkembangan yang sedang kita bahas, tetapi juga berkenaan dengan situasi-situasi keterbelakangan yang tidak seharusnya terjadi, atau berbagai keharusan historis yang dibebankan menjadi tanggungjawab manusia. Inilah sebabnya “bangsa-bangsa yang mengalami kelaparan mengarahkan himbauan yang dramatis kepada bangsa-bangsa yang mendapat karunia kelimpahan” (PP 3). Ini juga merupakan suatu panggilan, himbauan bantuan yang berasal dari manusia yang merdeka kepada sesamanya yang merdeka atas pra-anggapan mengenai tanggungjawab bersama. Paulus VI sangat memahami pentingnya struktur-struktur dan pranata ekonomi, namun beliau juga memahami dengan sama jelasnya hakekat struktur dan pranata itu sebagai alat perlengkapan bagi kebebasan manusia. Hanya jika berdasar kebebasan maka perkembangan itu seutuhnya manusiawi; hanya jika dalam iklim kebebasan yang bertanggungjawab maka perkembangan akan bertumbuh dengan memuaskan.
Teks Latin:
17. Vocatio postulatio est quaedam, quae liberam consciamque responsionem requirit. Humana integraque progressio libertatem personae populorumque responsalem complectitur: nulla quidem structura hanc progressionem praestare potest, extra supraque humanam responsalitatem. « Quidam magnificis sed dolosis eorum pollicitationibus vehementer inescantur, qui se veluti alteros Messias iactant » [Ibid., 11: l.m., 262; cfr Ioannes Paulus II, Litt. enc. Centesimus annus, 25: l.m., 822-824.]. Eorum consilia in denegata significatione progressionis transcendenti nituntur, cum prorsus ii confidant omnia sibi commodari. Fallax haec confidentia fit infirmitas, quandoquidem hominis servitutem efficit, qui progressionis fit instrumentum, dum suscipiendae cuiusdam vocationis humilitas vera fit autonomia, quoniam personam liberam reddit. Nulla fuit Paulo VI dubitatio quin progressioni impedimenta condicionesque obessent, sed hoc etiam pro explorato habebat: « Unusquisque, quantumcumque apud eum valent externae sollicitationes, sortis suae prosperae vel infelicis praecipuus artifex exstat » [Litt. enc. Populorum progressio, 15: l.m., 265.]. Libertas haec ob oculos positum provectum respicit ac simul ad tardi progressus condiciones attinet, quae non casu atque quandam propter historiae necessitatem oriuntur, sed ex humana responsalitate pendent. Quapropter « fame laborantes populi hodie divitiis praepollentes populos miserabili quadam voce compellant » [Ibid., 3: l.m., 258.]. Haec per verba homines liberi appellant, scilicet invocant, homines liberos ad responsalitatem communiter sumendam. Paulus VI plane intellexit structurarum oeconomicarum institutionumque pondus, sed ipse pariter earum naturam instrumentorum humanae libertatis liquido comprehendit. Solummodo si liber est, progressus integre humanus adest; solummodo regimine vigente responsalis libertatis, progressus aequabiliter augescere potest.
Rabu, 14 Juli 2010
Tentang Santa Anna, Sumber 2 Tradisi
Sepatah Kata Pengantar
Injil adalah salah satu ragam sastera di masa Perjanjian Baru. Sebelum dituliskan, injil-injil terlebih dahulu berkembang sebagai tradisi lisan di dalam masyarakat. Di luar keempat Injil yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Injil-injil kanonik Matius, Markus, Lukas, Yohanes) sudah beredar banyak tulisan Injil seperti itu. Di dalam pembukaan Injil yang ditulisnya, Santo Lukas mengatakan: “Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang telah disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.” (Luk 1:1-2). Mungkin Lukas telah melihat ada yang benar dan ada yang salah dalam tulisan-tulisan Injil yang sudah beredar, sehingga ketika hendak menyusun Injilnya, ia mengadakan penyelidikan dengan seksama dari mulanya (bdk Luk 1:3).
Proto Injil Santo Yakobus dan Injil Kelahiran Maria termasuk injil-injil yang berangkat dari tradisi dan merekam tradisi, yang diperkirakan berasal dari abad kedua. Karena tidak termasuk dalam kanon (daftar Kitab Suci) Perjanjian Baru, maka Injil-injil ini termasuk golongan Injil Apokrif. Namun ini tidak berarti apa yang tertulis di dalamnya keliru semua, melainkan ada yang benar, yang didukung oleh tradisi.
Sebagian dari Proto-Injil Santo Yakobus dan Injil Kelahiran Maria yang kusampaikan di sini adalah sebagai sumber-sumber tradisi untuk mengenal Santa Anna, yang bagi banyak orang hanya dikenal namanya, namun tidak diketahui bagaimana riwayatnya.
Malang, akhir Juni hingga awal Juli 2010
Bambang Kuss
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 1
1. Dalam riwayat kedua-belas suku Israel, kita membaca ada seseorang yang bernama Yoakhim, yang sangat kaya, yang menyampaikan persembahan kepada Tuhan Allah dua kali lipat, dengan keyakinan: “persembahanku niscaya menjadi berkat bagi semua orang, dan karenanya aku akan mendapat kerahiman Tuhan Allah demi pengampunan dosa-dosaku”. 2. Namun pada suatu hari raya Tuhan, ketika anak-anak Israel menyampaikan persembahan mereka dan Yoakhim juga hendak menyampaikan persembahannya, Ruben, imam besar, menolak dia, katanya, “Tidak sepantasnya kamu menyampaikan persembahan, mengingat kamu belum punya anak keturunan dalam Israel.” 3. Kata-kata ini membuat Yoakhim sangat sedih, sehingga ia pergi menemui petugas pencatat silsilah kedua belas suku, untuk melihat apakah hanya dirinya saja yang tidak punya keturunan. 4. Dari penyelidikan itu diketahuinya semua orang benar mempunyai benih di Israel: 5. Lalu ia teringat bapa-bangsa Abraham, Bagaimana Tuhan memberi dia anak, yaitu Ishak, pada bagian akhir hidupnya; ingatan itu membuat Yoakhim amat sangat sedih, dan ia tidak mau pulang menemui isterinya; 6. ia pergi ke padang gurun, mendirikan tenda di sana, dan berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku tak akan makan atau pun minum, sampai Tuhan Allahku berkenan memandang diriku, dan doaku adalah makananku dan minumanku.”
Catatan:
[1:6 Bdk dengan Musa, Kel 24:11; 34:28; Ul 9:9; dengan Elia, 1Raj 19:8.]
Injil Kelahiran Maria
BAB 1
1 Perawan Maria yang kudus dan mulia, yang terbit dari suku rajawi dan keluarga Daud, dilahirkan di kota Nazaret, dan dididik di Yerusalem, di Bait Allah Tuhan.
2 Nama ayahnya adalah Yoakim dan ibunya Hana (*). Keluarga ayahnya berasal dari Galilea dan dari kota Nazaret. Keluarga ibunya berasal dari Betlehem.
3. Mereka hidup lurus dan benar di mata Tuhan, saleh dan tanpa cela di hadapan manusia. Sebab mereka membagikan seluruh milik mereka menjadi tiga bagian:
4. Salah satu bagian mereka peruntukkan bagi Bait Allah dan petugas Bait Allah; sebagian yang lain diperuntukkan bagi orang asing dan orang miskin; dan bagian yang ketiga bagi diri mereka dan digunakan untuk keluarga mereka sendiri.
5. Dengan cara itulah mereka hidup selama dua puluh tahun secara murni, berkenan pada Allah, disukai sesama, namun tidak punya keturunan.
6. Namun mereka bernazar, sekiranya Tuhan berkenan memberikan anak, mereka akan membaktikan anak itu kepada Tuhan; karena itu mereka pergi beribadat di Bait Allah pada setiap perayaan.
7. Demikianlah maka menjelang perayaan cahaya, Yoakim dan teman-temannya yang satu puak pergi ke Yerusalem, dan pada waktu itu yang menjadi imam besar adalah Isakhar.
8. Ketika melihat Yoakim bersama dengan rombongannya membawa persembahan, ia mencemooh Yoakim dan persembahannya, katanya
9 “Mengapa dia yang tidak punya keturunan berani tampil di antara mereka yang punya.” Sambil menambahkan, bahwa persembahannya tidak akan diterima oleh Tuhan, yang menganggapnya tidak layak mempunyai anak; menurut Kitab Suci, celakalah barangsiapa yang tidak mempunyai putera di Israel.
10. Selanjutnya ia berkata, Yoakim seharusnya melepaskan diri dari kutuk dengan mendapatkan anak dulu, baru kemudian datang dengan membawa persembahannya di hadirat Tuhan.
11. Namun Yoakim yang sangat malu karena cemoohan itu, mengundurkan diri ke tempat para gembala, yang menjaga ternak mereka di padang;
12. Ia tidak berani pulang ke rumahnya, sebab setidaknya tetangga-tetangga yang ada bersamanya dan mendengar semua perkataan imam besar, akan menghinanya di depan umum dengan cara yang sama.
Catatan: (*) Hana(h) adalah nama Ibrani. Nama ini ditransliterasikan ke dalam berbagai bahasa lain menjadi Ann, Anna, atau Anne. Dalam transliterasi nama Ibrani itu, Kitab Suci Indonesia menggunakan Hana (Mis Hana isteri Tobit, ibu Tobias, Tob 1:9 dan nabiah dalam Luk 2:36-38), sedang bacaan-bacaan di luar Kitab Suci pada umumnya menggunakan Anna.
I:6 Bdk 1 Sam 1:6-7
Injil Kelahiran Maria
BAB 2
1 Setelah di tempat itu beberapa lama, pada suatu hari ketika ia sendirian, malaikat Allah berdiri di hadapannya dengan cahaya yang menyilaukan.
2 Kepadanya yang terkejut karena penampakan itu, malaikat yang menampakkan diri itu menghibur, katanya:
3 “Jangan takut, Yoakim, jangan terkejut karena melihat aku, sebab aku malaikat yang diutus Allah kepadamu, supaya aku memberitahukan kepadamu, bahwa doamu sudah didengarkan, dan segala dermamu naik ke hadapan Allah.
4 Karena Dia telah menyaksikan betapa kamu malu, dan telah mendengarkan hinaan yang tidak adil karena kamu tidak punya anak: sebab Tuhan menghukum dosa, bukan kodrat;
5 Maka ketika Ia menutup rahim seseorang, Ia melakukannya dengan maksud ini, supaya dengan cara yang lebih ajaib Ia membukanya kembali, sehingga yang dilahirkan bukanlah hasil nafsu, tetapi karunia Allah.
6 Bukankah ibu leluhur bangsamu Sara mandul sampai usianya delapan puluh tahun? Sekalipun begitu pada akhirnya ia melahirkan Ishak pada masa tuanya, dan pada anaknya itu ada janji berkat bagi segala bangsa.
7 Rahel juga yang sungguh dikasihi Allah, dan sangat dicintai oleh Yakub yang kudus tetap mandul sampai lama, tetapi sesudahnya ia menjadi ibu Yusuf yang bukan saja menjadi penguasa di Mesir, tetapi juga membebaskan banyak bangsa dari kematian karena lapar
8 Siapa di antara hakim-hakim yang lebih perkasa dari Simson, atau lebih kudus dari Samuel? Namun ibu-ibu mereka sama-sama mandul
9 Jika semua ini tidak meyakinkan kamu akan kebenaran perkataanku, bahwa ada banyak orang mengandung di masa tua, dan bahwa mereka yang mandul kemudian melahirkan sehingga menimbulkan keheranan besar, maka Hana isterimu akan melahirkan bagimu seorang anak perempuan, dan kamu akan menamainya Maria;
10 Dia akan dibaktikan kepada Allah dari masa kecilnya, dan akan penuh dengan Roh Kudus sejak dalam kandungan ibunya.
11 Ia tak akan makan atau minum sesuatu yang haram, dan iapun tidak akan bergaul dengan orang kebanyakan, melainkan berada di dalam bait Allah; itu supaya ia tidak dihinakan atau dicurigakan melakukan apa yang buruk.
12 Maka ketika ia bertumbuh nanti, sebagaimana ia sendiri dilahirkan dengan cara yang ajaib dari seorang yang mandul, maka sewaktu ia masih perawan, dengan cara yang tiada duanya, ia akan melahirkan Putera Allah yang Mahatinggi, yang akan dinamai Yesus, dan sesuai dengan arti namaNya, Ia akan menjadi Penyelamat segala bangsa (Mat 1:21).
13 Dan inilah tandanya bagimu dari semua yang telah kukatakan, yaitu, ketika kamu sampai di Gerbang Emas Yerusalem, kamu akan menjumpai Hana yang sangat cemas karena kamu tidak segera pulang, dan dia akan bersuka cita menjumpai engkau.”
14 Setelah mengatakan semuanya itu, malaikat itupun pergi meninggalkan dia.
Catatan: Ay 3: (Kis 10:4); Ay 6: (Kej 16:2dst; 17:10dst); Ay 7: (Kej 30:1-22; 41:1dst); Ay 8: (Hak 13:2; 1 Sam 6); Ay 10: (Luk 1:15)
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 2
1. Sementara itu Hana, isterinya sangat sedih dan bingung karena dua sebab, dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku akan meratapi baik keadaanku yang menjanda ditinggal suamiku maupun kemandulanku.” 2. Dan menjelang suatu hari raya Tuhan, Yudit, hambanya, berkata: “Sampai berapa lama engkau akan menyiksa jiwamu? Hari raya Tuhan sudah mendekat, tidak baik bagi seseorang untuk berdukacita. 3. Karena itu kenakanlah pakaian terbaik, yang diberikan oleh orang yang membuatnya bagimu, sebab tidak cocok jika aku, seorang hamba, memakainya, tetapi pakaian itu sangat cocok bagimu yang lebih mulia.” 4. Tapi Hana menjawab, “Pergilah dariku, aku tidak pantas untuk pakaian seperti itu, selain itu Tuhan sungguh membuatku hina, 4. aku takut orang keliru memberikan ini padamu dan kamu datang menambah parah keadaan dosaku”. 6. Lalu Yudit hambanya itu menjawab, “Kejahatan apa lagi yang kutimpakan padamu jika engkau tidak mendengarkan aku? 7. Aku tak ingin menambah besar kutuk yang engkau sandang, bahwa Allah menutup rahimmu, sehingga engkau tidak bisa menjadi seorang ibu di Israel.” 8. Atas perkataan itu Hana bertambah semakin sedih, dan setelah mengenakan gaun perkawinannya, pada pukul tiga sore ia berjalan-jalan di kebunnya, 9. dan ia melihat sebatang pohon salam, lalu ia duduk di bawah pohon itu, dan berdoa kepada Tuhan, katanya: 10. “Ya Allah para leluhurku, turunkanlah berkatMu kepadaku dan dengarkanlah doaku, seperti Engkau telah mendatangkan berkat pada rahim Sara, dan memberikan kepadanya seorang putera, Ishak.”(*)
Catatan:
* Kej 21:2
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 3
1. Dan ketika ia menengadah dilihatnya sebuah sarang burung pipit di antara daun-daun salam. 2. Ia mengeluh di dalam hati, katanya, “Wahai diriku, siapa yang memperanakkan aku? rahim siapakah yang melahirkan aku, sehingga aku menanggung aib ini di hadapan anak-anak Israel, sehingga mereka menghinakan dan mencemooh aku di rumah Tuhanku? Wahai diriku, dengan apa aku ini bisa dibandingkan? 3. Tak dapat aku dibandingkan dengan hewan-hewan yang paling ganas di bumi, sebab bahkan hewan bumi yang paling ganas pun punya keturunan di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 4. Tak dapat aku dibandingkan dengan hewan-hewan rendah di bumi, sebab bahkan hewan bumi yang rendah pun punya keturunan di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 5. Tak dapat aku dibandingkan dengan semua air ini, sebab segala air berbuah di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 6. Tak dapat aku dibandingkan dengan ombak di laut, sebab ombak, entah tenang, entah bergerak, punya ikan-ikan di dalamnya, dan memuliakan Engkau, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 7. Tak dapat aku dibandingkan dengan bumi, sebab bumi menghasilkan buahnya dan memuji Dikau, ya Tuhan!”
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 4
1. Kemudian seorang malaikat Tuhan berdiri di sampingnya dan berkata, “Hana, Hana, Tuhan telah mendengarkan doamu; kamu akan mengandung dan melahirkan; dan anakmu itu akan menjadi buah bibir di seluruh dunia.” 2. Dan Hana menjawab, “Demi Tuhan Allahku yang hidup, maka anak yang kulahirkan, entah laki-laki, entah perempuan, akan kubaktikan kepada Tuhan Allahku, dan anak itu akan melayaniNya dalam hal-hal yang kudus sepanjang hidupnya.” 3. Kemudian tampak dua malaikat, yang berkata kepadanya: “Suamimu, Yoakhim, akan pulang bersama para gembalanya,” 4. Sebab seorang malaikat juga sudah menemuinya dan berkata, “Tuhan Allah telah mendengarkan doamu, bergegaslah dan pulanglah, sebab Hana isterimu akan mengandung.” 5. Yoakhim pergi dan memanggil para gembalanya, dan berkata: “Ambillah untukku sepuluh anak-domba betina yang putih dan tak bercacat, dan mereka akan kupersembahkan kepada Tuhan Allahku; 6. Dan bawa padaku dua belas anak lembu yang tak bercatat, dan keduabelas anak-lembu itu akan diserahkan untuk para imam dan para penatua. 7. Bawa pula untukku seratus kambing, dan semuanya akan kueserahkan untuk segenap umat.” 8. Dan Yoakhim pulang bersama dengan para gembalanya, dan Hana yang berdiri menanti di dekat gapura melihat Yoakhim mendatangi bersama para gembalanya. 8. Ia berlari mendapatkan suaminya dan merangkul lehernya, katanya: “Kini aku tahu, Tuhan sungguh murah hati memberikan berkat karunia padaku; 10. sebab lihatlah, aku yang seorang janda kini bukan janda lagi, dan aku yang mandul kini akan mengandung.”
Injil Kelahiran Maria
BAB 3
1 Kemudian malaikat menampakkan diri pada Hana isterinya, dan berkata: “Jangan takut, dan jangan mengira bahwa yang kamu lihat ini hantu.
2 Sebab aku adalah malaikat yang menyampaikan doa-doa dan dermamu di hadapan Tuhan, dan sekarang aku diutus untuk memberitahukan kepadamu, bahwa kamu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan kamu namai Maria, dan ia akan diberkati dari antara semua wanita.
3 Dari sejak lahirnya ia akan penuh dengan rahmat Tuhan, dan akan terus tinggal selama tiga tahun di rumah bapanya, dan sesudahnya akan dibaktikan untuk melayani Tuhan, Ia tidak akan meninggalkan Bait Allah sebelum tiba waktu yang ditentukan baginya.
4 Pendeknya dia akan berada di sana melayani Tuhan siang dan malam dengan puasa dan doa, dan akan berpantang dari semua yang diharamkan, dan tak akan mengenal laki-laki.
5 Namun tanpa ada duanya, tanpa pembenihan, dan sebagai seorang perawan yang tidak mengenal laki-laki satupun, dia akan mengandung seorang putera, dan akan melahirkan Tuhan, yang dengan rahmat dan nama dan pekerjaanNya, akan menjadi penyelamat dunia.
6 Maka bangunlah dan pergilah ke Yerusalem dan pergilah ke Gerbang Emas (yang disebut demikian karena disepuh dan dilapisi dengan emas). Dan sebagai tanda atas semua perkataanku, kamu akan menjumpai suamimu yang kamu cemaskan keselamatannya.
7 Maka ketika kamu dapatkan semuanya ini terjadi, percayalah bahwa selebihnya yang telah kukatakan kepadamu, juga pasti akan terlaksana juga.”
8. Maka sesuai dengan perkataan malaikat itu, mereka berdua pergi meninggalkan tempat masing-masing dan di tempat yang telah ditunjukkan malaikat, mereka saling berjumpa.
9 Maka dengan bersuka cita atas penampakan masing-masing, dan merasa dipuaskan oleh janji akan seorang anak, mereka mengucap syukur kepada Allah, yang telah meninggikan yang hina dina.
10 Sesudah memuji Tuhan mereka pulang dan hidup dengan sukacita dengan harapan yang pasti akan janji Allah.
11. Maka Hana mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan dan sesuai dengan perkataan malaikat, mereka menamai anak itu Maria.
Catatan: Ay 1: Bdk Mat 14:26; ay 2: Lih Luk 1:28; ay 4: Lih Luk 2:37
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 5
1. Dan Yoakim seharian itu tinggal di rumah saja, namun esok hatinya ia membawa semua persembahannya dan berkata, 2. “Seandainya Tuhan rahim kepadaku, hendaklah dari Urim dan Tumim yang dikenakan imam Ia menyatakan keadaanku.” 3. Dan dari Urim dan Tumim yang dikenakan imam itu, kepadanya diperlihatkan, bahwa dosa tidak ada padanya. 4. Kata Yoakim, “Kini aku tahu Tuhan sungguh baik kepadaku dan telah membersihkan segala dosaku.” 5. Ia turun dari Bait Allah dan telah dibenarkan, lalu ia pulang ke rumahnya. 6. Dan setelah sembilan bulan genap bagi Hana, tibalah waktunya untuk melahirkan, dan kepada prawat penolong-kelahiran ia bertanya, “Bagaimana anak yang kulahirkan?” 7. Penolong kelahiran itu memberi tahu, “Seorang anak perempuan.” 8. Lalu Hana berkata, “Hari ini Tuhan telah memuliakan jiwaku.” Dan ia berbaring di ranjangnya. 9. Dan setelah usai masa nifasnya dan ia telah ditahirkan, ia menyusui anak itu dan memberikan nama Maria kepadanya.
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Diterjemahkan secara longgar, artinya tidak harfiah
oleh: Bambang Kuss
Bab 6
1 Dan anak itu bertambah kuat setiap hari, maka ketika umurnya sembilan bulan, ibunya menurunkannya ke tanah untuk melihat apakah ia bisa berdiri; anak itu berjalan sembilan langkah, kemudian kembali lagi ke pangkuan ibunya.
2. Ibunya mengangkatnya dan berkata, “Demi Tuhan Allahku yang hidup, kamu tak boleh lagi berjalan di atas bumi sampai kubawa kamu ke Bait Allah.”
3. Maka Hana membuatkan untuk anaknya itu suatu kamar sebagai tempat yang kudus, sehingga tidak tersentuh oleh sesuatu yang diharamkan dan apa yang najis tidak datang padanya, namun ia mengundang datang puteri-puteri Israel yang masih suci, tapi mereka menyisihkan anak itu.
4. Ketika umur anak itu genap satu tahun, Yoakim membuat pesta besar, dan ia mengundang para imam, ahli-kitab, para penatua dan segenap orang Israel.
5. Dan Yoakim menyampaikan persembahan korban untuk anak itu, dan mereka memberkati anak itu dengan berkata, “Allah para bapa leluhur kita memberkati gadis ini, dan memberikan nama yang masyhur kepadanya untuk segala angkatan.” Semua yang hadir menjawab, “Amin”.
6. Lalu untuk kali yang kedua, Yoakim menyerahkan anak itu kepada para imam, dan mereka memberkati anak itu dambil berkata, “Ya Allah yang mahatinggi, pandanglah anak ini, dan karuniakanlah kepadanya berkat yang kekal.”
7. Ibunya lalu mengambil anak itu, dan menyusui anak itu, sambil menyanyikan kidung berikut kepada Tuhan.
8. “Aku akan menyanyikan lagu baru kepada Tuhan Allahku, sebab Ia telah melawat aku; Ia telah membebaskan aku dari musuh-musuh yang menghinaku, dan memberikan kepadaku keadilan-Nya, sehingga boleh diberitakan kepada anak-anak Ruben, bahwa Hana telah menyusui anaknya.”
9. Kemudian ia membaringkan anak itu tidur di kamar yang telah ditahirkan, lalu ia keluar lagi untuk melayani tamu-tamu.
10. Dan ketika perjamuan pesta usai, mereka pulang dengan sukacita sambil memuji Allah.
Bab 7
1. Anak itu bertumbuh menjadi besar, dan ketika umurnya dua tahun, Yoakim berkata kepada Hana, “Mari kita membawanya ke Bait Allah, supaya kita melunaskan janji kita, yang telah kita ucapkan kepada Tuhan Allah, supaya Ia tidak memurkai kita dan tidak berkenan kepada persembahan kita.”
2. Namun Hana berkata, “Biarlah kita tunggu hingga tahun ketiga, supaya ia mengenal ayahnya.” Yoakim menjawab, “Kalau begitu baiklah kita menunggu.”
3. Dan ketika umur anak itu tiga tahun, Yoakim berkata, “Marilah kita mengajak gadis-gadis Ibrani yang masih suci, dan biarlah masing-masing dari mereka membawa pelita, dan biarlah mereka menyalakan pelita itu, supaya anak ini tidak berpaling untuk pulang, dan tidak bosan pada Bait Allah.”
4. Hal itu mereka lakukan, sampai mereka naik ke Bait Allah. Dan imam besar menerima anak itu, dan memberkati anak itu sambil berkata, “Maria, Tuhan Allah telah memuliakan namamu kepada semua angkatan, dan hingga akhir zaman Tuhan akan memberikan keselamatan kepada anak-anak Israel.”
5. Imam besar menurunkan Maria pada undakan ketiga dari altar, dan Tuhan memberkatinya, dan Maria menari dengan kakinya, dan seluruh Israel mengasihi dia.
Bab 8
1. Orangtuanya pulang dengan takjub dan memuji Allah, sebab anak itu tidak rewel berbalik kepada mereka.
Injil Kelahiran Maria
BAB 4
1 Tiga tahun telah berlalu dan masa sapihannya pun selesai, mereka membawa sang Perawan ke Bait Allah sekalian dengan membawa persembahan.
2 Dan menjelang tiba di Bait Allah, menurut lima belas Mazmur ziarah ada lima belas anak tangga yang harus didaki.
3 Karena Bait Allah dibangun di atas sebuah gunung, mezbah korban bakaran tak bisa tidak harus didekati dengan mendaki anak tangga.
4 Orangtua sang Perawan dan kanak-kanak Maria yang terberkati berhenti dan mereka menurunkannya di salah satu anak tangga
5 Mereka melepas pakaian yang telah digunakan untuk perjalanan, dan menurut adat harus diganti dengan yang lebih rapi dan bersih.
6 Sementara itu Perawan Allah dengan cara yang luarbiasa mendaki semua anak tangga satu per satu, tanpa ada orang yang membimbing atau mengangkatnya, sehingga setiap orang mengira umurnya sudah cukup.
7 Maka Tuhan melakukan perkerjaan yang ajaib dalam masa kanak-kanak sang Perawan, terbukti betapa baiknya dia di kemudian hari.
8 Namun setelah menyampaikan persembahan korban mereka menurut adat hukum, dan menyempurnakan nadar mereka, orangtuanya meninggalkan sang Perawan di Bait Allah, untuk dibesarkan di sana, lalu pulang.
Ay 2: Mzm 120 s/d 134
Injil adalah salah satu ragam sastera di masa Perjanjian Baru. Sebelum dituliskan, injil-injil terlebih dahulu berkembang sebagai tradisi lisan di dalam masyarakat. Di luar keempat Injil yang terdapat dalam Kitab Perjanjian Baru (Injil-injil kanonik Matius, Markus, Lukas, Yohanes) sudah beredar banyak tulisan Injil seperti itu. Di dalam pembukaan Injil yang ditulisnya, Santo Lukas mengatakan: “Banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita, seperti yang telah disampaikan kepada kita oleh mereka, yang dari semula adalah saksi mata dan pelayan Firman.” (Luk 1:1-2). Mungkin Lukas telah melihat ada yang benar dan ada yang salah dalam tulisan-tulisan Injil yang sudah beredar, sehingga ketika hendak menyusun Injilnya, ia mengadakan penyelidikan dengan seksama dari mulanya (bdk Luk 1:3).
Proto Injil Santo Yakobus dan Injil Kelahiran Maria termasuk injil-injil yang berangkat dari tradisi dan merekam tradisi, yang diperkirakan berasal dari abad kedua. Karena tidak termasuk dalam kanon (daftar Kitab Suci) Perjanjian Baru, maka Injil-injil ini termasuk golongan Injil Apokrif. Namun ini tidak berarti apa yang tertulis di dalamnya keliru semua, melainkan ada yang benar, yang didukung oleh tradisi.
Sebagian dari Proto-Injil Santo Yakobus dan Injil Kelahiran Maria yang kusampaikan di sini adalah sebagai sumber-sumber tradisi untuk mengenal Santa Anna, yang bagi banyak orang hanya dikenal namanya, namun tidak diketahui bagaimana riwayatnya.
Malang, akhir Juni hingga awal Juli 2010
Bambang Kuss
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 1
1. Dalam riwayat kedua-belas suku Israel, kita membaca ada seseorang yang bernama Yoakhim, yang sangat kaya, yang menyampaikan persembahan kepada Tuhan Allah dua kali lipat, dengan keyakinan: “persembahanku niscaya menjadi berkat bagi semua orang, dan karenanya aku akan mendapat kerahiman Tuhan Allah demi pengampunan dosa-dosaku”. 2. Namun pada suatu hari raya Tuhan, ketika anak-anak Israel menyampaikan persembahan mereka dan Yoakhim juga hendak menyampaikan persembahannya, Ruben, imam besar, menolak dia, katanya, “Tidak sepantasnya kamu menyampaikan persembahan, mengingat kamu belum punya anak keturunan dalam Israel.” 3. Kata-kata ini membuat Yoakhim sangat sedih, sehingga ia pergi menemui petugas pencatat silsilah kedua belas suku, untuk melihat apakah hanya dirinya saja yang tidak punya keturunan. 4. Dari penyelidikan itu diketahuinya semua orang benar mempunyai benih di Israel: 5. Lalu ia teringat bapa-bangsa Abraham, Bagaimana Tuhan memberi dia anak, yaitu Ishak, pada bagian akhir hidupnya; ingatan itu membuat Yoakhim amat sangat sedih, dan ia tidak mau pulang menemui isterinya; 6. ia pergi ke padang gurun, mendirikan tenda di sana, dan berpuasa empat puluh hari dan empat puluh malam, dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku tak akan makan atau pun minum, sampai Tuhan Allahku berkenan memandang diriku, dan doaku adalah makananku dan minumanku.”
Catatan:
[1:6 Bdk dengan Musa, Kel 24:11; 34:28; Ul 9:9; dengan Elia, 1Raj 19:8.]
Injil Kelahiran Maria
BAB 1
1 Perawan Maria yang kudus dan mulia, yang terbit dari suku rajawi dan keluarga Daud, dilahirkan di kota Nazaret, dan dididik di Yerusalem, di Bait Allah Tuhan.
2 Nama ayahnya adalah Yoakim dan ibunya Hana (*). Keluarga ayahnya berasal dari Galilea dan dari kota Nazaret. Keluarga ibunya berasal dari Betlehem.
3. Mereka hidup lurus dan benar di mata Tuhan, saleh dan tanpa cela di hadapan manusia. Sebab mereka membagikan seluruh milik mereka menjadi tiga bagian:
4. Salah satu bagian mereka peruntukkan bagi Bait Allah dan petugas Bait Allah; sebagian yang lain diperuntukkan bagi orang asing dan orang miskin; dan bagian yang ketiga bagi diri mereka dan digunakan untuk keluarga mereka sendiri.
5. Dengan cara itulah mereka hidup selama dua puluh tahun secara murni, berkenan pada Allah, disukai sesama, namun tidak punya keturunan.
6. Namun mereka bernazar, sekiranya Tuhan berkenan memberikan anak, mereka akan membaktikan anak itu kepada Tuhan; karena itu mereka pergi beribadat di Bait Allah pada setiap perayaan.
7. Demikianlah maka menjelang perayaan cahaya, Yoakim dan teman-temannya yang satu puak pergi ke Yerusalem, dan pada waktu itu yang menjadi imam besar adalah Isakhar.
8. Ketika melihat Yoakim bersama dengan rombongannya membawa persembahan, ia mencemooh Yoakim dan persembahannya, katanya
9 “Mengapa dia yang tidak punya keturunan berani tampil di antara mereka yang punya.” Sambil menambahkan, bahwa persembahannya tidak akan diterima oleh Tuhan, yang menganggapnya tidak layak mempunyai anak; menurut Kitab Suci, celakalah barangsiapa yang tidak mempunyai putera di Israel.
10. Selanjutnya ia berkata, Yoakim seharusnya melepaskan diri dari kutuk dengan mendapatkan anak dulu, baru kemudian datang dengan membawa persembahannya di hadirat Tuhan.
11. Namun Yoakim yang sangat malu karena cemoohan itu, mengundurkan diri ke tempat para gembala, yang menjaga ternak mereka di padang;
12. Ia tidak berani pulang ke rumahnya, sebab setidaknya tetangga-tetangga yang ada bersamanya dan mendengar semua perkataan imam besar, akan menghinanya di depan umum dengan cara yang sama.
Catatan: (*) Hana(h) adalah nama Ibrani. Nama ini ditransliterasikan ke dalam berbagai bahasa lain menjadi Ann, Anna, atau Anne. Dalam transliterasi nama Ibrani itu, Kitab Suci Indonesia menggunakan Hana (Mis Hana isteri Tobit, ibu Tobias, Tob 1:9 dan nabiah dalam Luk 2:36-38), sedang bacaan-bacaan di luar Kitab Suci pada umumnya menggunakan Anna.
I:6 Bdk 1 Sam 1:6-7
Injil Kelahiran Maria
BAB 2
1 Setelah di tempat itu beberapa lama, pada suatu hari ketika ia sendirian, malaikat Allah berdiri di hadapannya dengan cahaya yang menyilaukan.
2 Kepadanya yang terkejut karena penampakan itu, malaikat yang menampakkan diri itu menghibur, katanya:
3 “Jangan takut, Yoakim, jangan terkejut karena melihat aku, sebab aku malaikat yang diutus Allah kepadamu, supaya aku memberitahukan kepadamu, bahwa doamu sudah didengarkan, dan segala dermamu naik ke hadapan Allah.
4 Karena Dia telah menyaksikan betapa kamu malu, dan telah mendengarkan hinaan yang tidak adil karena kamu tidak punya anak: sebab Tuhan menghukum dosa, bukan kodrat;
5 Maka ketika Ia menutup rahim seseorang, Ia melakukannya dengan maksud ini, supaya dengan cara yang lebih ajaib Ia membukanya kembali, sehingga yang dilahirkan bukanlah hasil nafsu, tetapi karunia Allah.
6 Bukankah ibu leluhur bangsamu Sara mandul sampai usianya delapan puluh tahun? Sekalipun begitu pada akhirnya ia melahirkan Ishak pada masa tuanya, dan pada anaknya itu ada janji berkat bagi segala bangsa.
7 Rahel juga yang sungguh dikasihi Allah, dan sangat dicintai oleh Yakub yang kudus tetap mandul sampai lama, tetapi sesudahnya ia menjadi ibu Yusuf yang bukan saja menjadi penguasa di Mesir, tetapi juga membebaskan banyak bangsa dari kematian karena lapar
8 Siapa di antara hakim-hakim yang lebih perkasa dari Simson, atau lebih kudus dari Samuel? Namun ibu-ibu mereka sama-sama mandul
9 Jika semua ini tidak meyakinkan kamu akan kebenaran perkataanku, bahwa ada banyak orang mengandung di masa tua, dan bahwa mereka yang mandul kemudian melahirkan sehingga menimbulkan keheranan besar, maka Hana isterimu akan melahirkan bagimu seorang anak perempuan, dan kamu akan menamainya Maria;
10 Dia akan dibaktikan kepada Allah dari masa kecilnya, dan akan penuh dengan Roh Kudus sejak dalam kandungan ibunya.
11 Ia tak akan makan atau minum sesuatu yang haram, dan iapun tidak akan bergaul dengan orang kebanyakan, melainkan berada di dalam bait Allah; itu supaya ia tidak dihinakan atau dicurigakan melakukan apa yang buruk.
12 Maka ketika ia bertumbuh nanti, sebagaimana ia sendiri dilahirkan dengan cara yang ajaib dari seorang yang mandul, maka sewaktu ia masih perawan, dengan cara yang tiada duanya, ia akan melahirkan Putera Allah yang Mahatinggi, yang akan dinamai Yesus, dan sesuai dengan arti namaNya, Ia akan menjadi Penyelamat segala bangsa (Mat 1:21).
13 Dan inilah tandanya bagimu dari semua yang telah kukatakan, yaitu, ketika kamu sampai di Gerbang Emas Yerusalem, kamu akan menjumpai Hana yang sangat cemas karena kamu tidak segera pulang, dan dia akan bersuka cita menjumpai engkau.”
14 Setelah mengatakan semuanya itu, malaikat itupun pergi meninggalkan dia.
Catatan: Ay 3: (Kis 10:4); Ay 6: (Kej 16:2dst; 17:10dst); Ay 7: (Kej 30:1-22; 41:1dst); Ay 8: (Hak 13:2; 1 Sam 6); Ay 10: (Luk 1:15)
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 2
1. Sementara itu Hana, isterinya sangat sedih dan bingung karena dua sebab, dan berkata pada dirinya sendiri, “Aku akan meratapi baik keadaanku yang menjanda ditinggal suamiku maupun kemandulanku.” 2. Dan menjelang suatu hari raya Tuhan, Yudit, hambanya, berkata: “Sampai berapa lama engkau akan menyiksa jiwamu? Hari raya Tuhan sudah mendekat, tidak baik bagi seseorang untuk berdukacita. 3. Karena itu kenakanlah pakaian terbaik, yang diberikan oleh orang yang membuatnya bagimu, sebab tidak cocok jika aku, seorang hamba, memakainya, tetapi pakaian itu sangat cocok bagimu yang lebih mulia.” 4. Tapi Hana menjawab, “Pergilah dariku, aku tidak pantas untuk pakaian seperti itu, selain itu Tuhan sungguh membuatku hina, 4. aku takut orang keliru memberikan ini padamu dan kamu datang menambah parah keadaan dosaku”. 6. Lalu Yudit hambanya itu menjawab, “Kejahatan apa lagi yang kutimpakan padamu jika engkau tidak mendengarkan aku? 7. Aku tak ingin menambah besar kutuk yang engkau sandang, bahwa Allah menutup rahimmu, sehingga engkau tidak bisa menjadi seorang ibu di Israel.” 8. Atas perkataan itu Hana bertambah semakin sedih, dan setelah mengenakan gaun perkawinannya, pada pukul tiga sore ia berjalan-jalan di kebunnya, 9. dan ia melihat sebatang pohon salam, lalu ia duduk di bawah pohon itu, dan berdoa kepada Tuhan, katanya: 10. “Ya Allah para leluhurku, turunkanlah berkatMu kepadaku dan dengarkanlah doaku, seperti Engkau telah mendatangkan berkat pada rahim Sara, dan memberikan kepadanya seorang putera, Ishak.”(*)
Catatan:
* Kej 21:2
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 3
1. Dan ketika ia menengadah dilihatnya sebuah sarang burung pipit di antara daun-daun salam. 2. Ia mengeluh di dalam hati, katanya, “Wahai diriku, siapa yang memperanakkan aku? rahim siapakah yang melahirkan aku, sehingga aku menanggung aib ini di hadapan anak-anak Israel, sehingga mereka menghinakan dan mencemooh aku di rumah Tuhanku? Wahai diriku, dengan apa aku ini bisa dibandingkan? 3. Tak dapat aku dibandingkan dengan hewan-hewan yang paling ganas di bumi, sebab bahkan hewan bumi yang paling ganas pun punya keturunan di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 4. Tak dapat aku dibandingkan dengan hewan-hewan rendah di bumi, sebab bahkan hewan bumi yang rendah pun punya keturunan di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 5. Tak dapat aku dibandingkan dengan semua air ini, sebab segala air berbuah di hadapanMu, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 6. Tak dapat aku dibandingkan dengan ombak di laut, sebab ombak, entah tenang, entah bergerak, punya ikan-ikan di dalamnya, dan memuliakan Engkau, ya Tuhan! Wahai diriku, dengan apa aku bisa dibandingkan? 7. Tak dapat aku dibandingkan dengan bumi, sebab bumi menghasilkan buahnya dan memuji Dikau, ya Tuhan!”
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 4
1. Kemudian seorang malaikat Tuhan berdiri di sampingnya dan berkata, “Hana, Hana, Tuhan telah mendengarkan doamu; kamu akan mengandung dan melahirkan; dan anakmu itu akan menjadi buah bibir di seluruh dunia.” 2. Dan Hana menjawab, “Demi Tuhan Allahku yang hidup, maka anak yang kulahirkan, entah laki-laki, entah perempuan, akan kubaktikan kepada Tuhan Allahku, dan anak itu akan melayaniNya dalam hal-hal yang kudus sepanjang hidupnya.” 3. Kemudian tampak dua malaikat, yang berkata kepadanya: “Suamimu, Yoakhim, akan pulang bersama para gembalanya,” 4. Sebab seorang malaikat juga sudah menemuinya dan berkata, “Tuhan Allah telah mendengarkan doamu, bergegaslah dan pulanglah, sebab Hana isterimu akan mengandung.” 5. Yoakhim pergi dan memanggil para gembalanya, dan berkata: “Ambillah untukku sepuluh anak-domba betina yang putih dan tak bercacat, dan mereka akan kupersembahkan kepada Tuhan Allahku; 6. Dan bawa padaku dua belas anak lembu yang tak bercatat, dan keduabelas anak-lembu itu akan diserahkan untuk para imam dan para penatua. 7. Bawa pula untukku seratus kambing, dan semuanya akan kueserahkan untuk segenap umat.” 8. Dan Yoakhim pulang bersama dengan para gembalanya, dan Hana yang berdiri menanti di dekat gapura melihat Yoakhim mendatangi bersama para gembalanya. 8. Ia berlari mendapatkan suaminya dan merangkul lehernya, katanya: “Kini aku tahu, Tuhan sungguh murah hati memberikan berkat karunia padaku; 10. sebab lihatlah, aku yang seorang janda kini bukan janda lagi, dan aku yang mandul kini akan mengandung.”
Injil Kelahiran Maria
BAB 3
1 Kemudian malaikat menampakkan diri pada Hana isterinya, dan berkata: “Jangan takut, dan jangan mengira bahwa yang kamu lihat ini hantu.
2 Sebab aku adalah malaikat yang menyampaikan doa-doa dan dermamu di hadapan Tuhan, dan sekarang aku diutus untuk memberitahukan kepadamu, bahwa kamu akan melahirkan seorang anak perempuan, yang akan kamu namai Maria, dan ia akan diberkati dari antara semua wanita.
3 Dari sejak lahirnya ia akan penuh dengan rahmat Tuhan, dan akan terus tinggal selama tiga tahun di rumah bapanya, dan sesudahnya akan dibaktikan untuk melayani Tuhan, Ia tidak akan meninggalkan Bait Allah sebelum tiba waktu yang ditentukan baginya.
4 Pendeknya dia akan berada di sana melayani Tuhan siang dan malam dengan puasa dan doa, dan akan berpantang dari semua yang diharamkan, dan tak akan mengenal laki-laki.
5 Namun tanpa ada duanya, tanpa pembenihan, dan sebagai seorang perawan yang tidak mengenal laki-laki satupun, dia akan mengandung seorang putera, dan akan melahirkan Tuhan, yang dengan rahmat dan nama dan pekerjaanNya, akan menjadi penyelamat dunia.
6 Maka bangunlah dan pergilah ke Yerusalem dan pergilah ke Gerbang Emas (yang disebut demikian karena disepuh dan dilapisi dengan emas). Dan sebagai tanda atas semua perkataanku, kamu akan menjumpai suamimu yang kamu cemaskan keselamatannya.
7 Maka ketika kamu dapatkan semuanya ini terjadi, percayalah bahwa selebihnya yang telah kukatakan kepadamu, juga pasti akan terlaksana juga.”
8. Maka sesuai dengan perkataan malaikat itu, mereka berdua pergi meninggalkan tempat masing-masing dan di tempat yang telah ditunjukkan malaikat, mereka saling berjumpa.
9 Maka dengan bersuka cita atas penampakan masing-masing, dan merasa dipuaskan oleh janji akan seorang anak, mereka mengucap syukur kepada Allah, yang telah meninggikan yang hina dina.
10 Sesudah memuji Tuhan mereka pulang dan hidup dengan sukacita dengan harapan yang pasti akan janji Allah.
11. Maka Hana mengandung dan melahirkan seorang anak perempuan dan sesuai dengan perkataan malaikat, mereka menamai anak itu Maria.
Catatan: Ay 1: Bdk Mat 14:26; ay 2: Lih Luk 1:28; ay 4: Lih Luk 2:37
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Bab 5
1. Dan Yoakim seharian itu tinggal di rumah saja, namun esok hatinya ia membawa semua persembahannya dan berkata, 2. “Seandainya Tuhan rahim kepadaku, hendaklah dari Urim dan Tumim yang dikenakan imam Ia menyatakan keadaanku.” 3. Dan dari Urim dan Tumim yang dikenakan imam itu, kepadanya diperlihatkan, bahwa dosa tidak ada padanya. 4. Kata Yoakim, “Kini aku tahu Tuhan sungguh baik kepadaku dan telah membersihkan segala dosaku.” 5. Ia turun dari Bait Allah dan telah dibenarkan, lalu ia pulang ke rumahnya. 6. Dan setelah sembilan bulan genap bagi Hana, tibalah waktunya untuk melahirkan, dan kepada prawat penolong-kelahiran ia bertanya, “Bagaimana anak yang kulahirkan?” 7. Penolong kelahiran itu memberi tahu, “Seorang anak perempuan.” 8. Lalu Hana berkata, “Hari ini Tuhan telah memuliakan jiwaku.” Dan ia berbaring di ranjangnya. 9. Dan setelah usai masa nifasnya dan ia telah ditahirkan, ia menyusui anak itu dan memberikan nama Maria kepadanya.
PROTO-INJIL SANTO YAKOBUS
Diterjemahkan secara longgar, artinya tidak harfiah
oleh: Bambang Kuss
Bab 6
1 Dan anak itu bertambah kuat setiap hari, maka ketika umurnya sembilan bulan, ibunya menurunkannya ke tanah untuk melihat apakah ia bisa berdiri; anak itu berjalan sembilan langkah, kemudian kembali lagi ke pangkuan ibunya.
2. Ibunya mengangkatnya dan berkata, “Demi Tuhan Allahku yang hidup, kamu tak boleh lagi berjalan di atas bumi sampai kubawa kamu ke Bait Allah.”
3. Maka Hana membuatkan untuk anaknya itu suatu kamar sebagai tempat yang kudus, sehingga tidak tersentuh oleh sesuatu yang diharamkan dan apa yang najis tidak datang padanya, namun ia mengundang datang puteri-puteri Israel yang masih suci, tapi mereka menyisihkan anak itu.
4. Ketika umur anak itu genap satu tahun, Yoakim membuat pesta besar, dan ia mengundang para imam, ahli-kitab, para penatua dan segenap orang Israel.
5. Dan Yoakim menyampaikan persembahan korban untuk anak itu, dan mereka memberkati anak itu dengan berkata, “Allah para bapa leluhur kita memberkati gadis ini, dan memberikan nama yang masyhur kepadanya untuk segala angkatan.” Semua yang hadir menjawab, “Amin”.
6. Lalu untuk kali yang kedua, Yoakim menyerahkan anak itu kepada para imam, dan mereka memberkati anak itu dambil berkata, “Ya Allah yang mahatinggi, pandanglah anak ini, dan karuniakanlah kepadanya berkat yang kekal.”
7. Ibunya lalu mengambil anak itu, dan menyusui anak itu, sambil menyanyikan kidung berikut kepada Tuhan.
8. “Aku akan menyanyikan lagu baru kepada Tuhan Allahku, sebab Ia telah melawat aku; Ia telah membebaskan aku dari musuh-musuh yang menghinaku, dan memberikan kepadaku keadilan-Nya, sehingga boleh diberitakan kepada anak-anak Ruben, bahwa Hana telah menyusui anaknya.”
9. Kemudian ia membaringkan anak itu tidur di kamar yang telah ditahirkan, lalu ia keluar lagi untuk melayani tamu-tamu.
10. Dan ketika perjamuan pesta usai, mereka pulang dengan sukacita sambil memuji Allah.
Bab 7
1. Anak itu bertumbuh menjadi besar, dan ketika umurnya dua tahun, Yoakim berkata kepada Hana, “Mari kita membawanya ke Bait Allah, supaya kita melunaskan janji kita, yang telah kita ucapkan kepada Tuhan Allah, supaya Ia tidak memurkai kita dan tidak berkenan kepada persembahan kita.”
2. Namun Hana berkata, “Biarlah kita tunggu hingga tahun ketiga, supaya ia mengenal ayahnya.” Yoakim menjawab, “Kalau begitu baiklah kita menunggu.”
3. Dan ketika umur anak itu tiga tahun, Yoakim berkata, “Marilah kita mengajak gadis-gadis Ibrani yang masih suci, dan biarlah masing-masing dari mereka membawa pelita, dan biarlah mereka menyalakan pelita itu, supaya anak ini tidak berpaling untuk pulang, dan tidak bosan pada Bait Allah.”
4. Hal itu mereka lakukan, sampai mereka naik ke Bait Allah. Dan imam besar menerima anak itu, dan memberkati anak itu sambil berkata, “Maria, Tuhan Allah telah memuliakan namamu kepada semua angkatan, dan hingga akhir zaman Tuhan akan memberikan keselamatan kepada anak-anak Israel.”
5. Imam besar menurunkan Maria pada undakan ketiga dari altar, dan Tuhan memberkatinya, dan Maria menari dengan kakinya, dan seluruh Israel mengasihi dia.
Bab 8
1. Orangtuanya pulang dengan takjub dan memuji Allah, sebab anak itu tidak rewel berbalik kepada mereka.
Injil Kelahiran Maria
BAB 4
1 Tiga tahun telah berlalu dan masa sapihannya pun selesai, mereka membawa sang Perawan ke Bait Allah sekalian dengan membawa persembahan.
2 Dan menjelang tiba di Bait Allah, menurut lima belas Mazmur ziarah ada lima belas anak tangga yang harus didaki.
3 Karena Bait Allah dibangun di atas sebuah gunung, mezbah korban bakaran tak bisa tidak harus didekati dengan mendaki anak tangga.
4 Orangtua sang Perawan dan kanak-kanak Maria yang terberkati berhenti dan mereka menurunkannya di salah satu anak tangga
5 Mereka melepas pakaian yang telah digunakan untuk perjalanan, dan menurut adat harus diganti dengan yang lebih rapi dan bersih.
6 Sementara itu Perawan Allah dengan cara yang luarbiasa mendaki semua anak tangga satu per satu, tanpa ada orang yang membimbing atau mengangkatnya, sehingga setiap orang mengira umurnya sudah cukup.
7 Maka Tuhan melakukan perkerjaan yang ajaib dalam masa kanak-kanak sang Perawan, terbukti betapa baiknya dia di kemudian hari.
8 Namun setelah menyampaikan persembahan korban mereka menurut adat hukum, dan menyempurnakan nadar mereka, orangtuanya meninggalkan sang Perawan di Bait Allah, untuk dibesarkan di sana, lalu pulang.
Ay 2: Mzm 120 s/d 134
Mengejar Tujuan Dengan Luwes
Ada strategi tertentu di dalam upaya mencapai tujuan, yang mengajak kita untuk mengikuti arus. Strategi pencapaian sasaran itu mengajarkan kepada kita keluwesan hati dan kerelaan fisik. Dalam hal ini ada hikmat yang diajarkan kisah Sufi tentang sungai yang bertemu dengan padang gurun. Sungai itu sangat kuat dan sejauh yang diingatnya, ia mengalir terus. Ia telah melalui gunung-gunung dan dataran, melewati es juga. Lalu pada suatu hari ia sampai di padang gurun.
Pada mulanya ia mencoba melintasi padang gurun itu dan menggelontorkan airnya sekuat mungkin ke pasir. Tetapi air itu selalu habis diserap pasir. Gentarlah sungai itu. Jelas sekali bahwa cara kerjanya yang lama, yang biasa digunakannya, tidak bisa jalan di sini. Ia tidak tahu bagaimana caranya melintasi padang pasir.
Akhirnya sungai itu meminta nasihat dari angin.
“Kamu harus santai, biarkan aku mengangkatmu,” kata angin menjelaskan. “Jika kamu mau membiarkan dirimu menjadi uap air, dengan senang hati aku akan menerbangkan kamu, melintasi seluruh padang gurun itu dalam waktu singkat. Lalu kamu menjadi awan hujan, lalu jatuh dari langit dalam rupa jutaan titik air hujan, dan menjadi sebuah sungai lagi.”
Si sungai terguncang. “Uap air?” teriaknya. “Apa itu uap air? Dan apa pula awan hujan? Titik air hujan? Aku tak bisa menjadi hal-hal itu. Aku sebuah sungai!”
Angin berusaha memberi penjelasan. “Tapi kamu adalah banyak hal. Memang kamu sebatang sungai, tetapi juga sebuah sungai dan awan uap air dan juga titik air hujan, walaupun berbeda, semua itu adalah bentuk atau rupa yang lain dari sesuatu yang sama. Katakanlah itu hakikatmu, dan aku yakin kamu tak akan lupa tentang hakikat itu.”
“Tapi aku sebuah sungai,” kata sungai itu dengan keras kepala, “bagaimana mungkin aku bisa menjadi hal-hal yang lain itu?”
“Oh, sungguh itu. Yah. Percayalah padaku,” jawab angin itu. “Cobalah untuk percaya kepadaku, nanti akan kutunjukkan kepadamu. Kamu dapat menjadi banyak hal, menjadi berbagai hal, tanpa kehilangan hakikatmu, temanku.”
Sungai yang takut dan tidak yakin itu merenung cukup lama, tetapi ia akhirnya memutuskan bahwa tak ada pilihan yang lebih baik.
“Kupikir aku sudah siap sekarang,” akhirnya ia berbisik kepada angin.
Sang angin kemudian mengangkat sungai itu dengan penuh kasih, mula-mula membelainya agar menjadi bentuk kabut uap air yang jauh lebih ringan, dan kemudian dengan lembut ia membawanya ke seberang padang gurun. Sungai itu menjadi santai. Dan kemudian sang angin menurunkannya sejauh mungkin di seberang sana, dan kemudian sungai itu melanjutkan perjalanannya lagi.
Sungai yang berkembang menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya, kini mengalir maju dengan suatu hati yang baru, hati yang terbuka kepada berbagai kemungkinan yang jauh lebih besar.
Belajar dari keadaan serupa yang dihadapi sungai, kita tahu bahwa keluwesan, kepasrahan dan keterbukaan dapat membawa kita jauh lebih efektif ke arah tujuan.
ADA BAIKNYA BERTEMAN DENGAN KETIDAKPASTIAN.... SUPAYA KITA JADI PEKA TERHADAP SEMUA KEMUNGKINAN.
Rachel Naomi Remen
Pada mulanya ia mencoba melintasi padang gurun itu dan menggelontorkan airnya sekuat mungkin ke pasir. Tetapi air itu selalu habis diserap pasir. Gentarlah sungai itu. Jelas sekali bahwa cara kerjanya yang lama, yang biasa digunakannya, tidak bisa jalan di sini. Ia tidak tahu bagaimana caranya melintasi padang pasir.
Akhirnya sungai itu meminta nasihat dari angin.
“Kamu harus santai, biarkan aku mengangkatmu,” kata angin menjelaskan. “Jika kamu mau membiarkan dirimu menjadi uap air, dengan senang hati aku akan menerbangkan kamu, melintasi seluruh padang gurun itu dalam waktu singkat. Lalu kamu menjadi awan hujan, lalu jatuh dari langit dalam rupa jutaan titik air hujan, dan menjadi sebuah sungai lagi.”
Si sungai terguncang. “Uap air?” teriaknya. “Apa itu uap air? Dan apa pula awan hujan? Titik air hujan? Aku tak bisa menjadi hal-hal itu. Aku sebuah sungai!”
Angin berusaha memberi penjelasan. “Tapi kamu adalah banyak hal. Memang kamu sebatang sungai, tetapi juga sebuah sungai dan awan uap air dan juga titik air hujan, walaupun berbeda, semua itu adalah bentuk atau rupa yang lain dari sesuatu yang sama. Katakanlah itu hakikatmu, dan aku yakin kamu tak akan lupa tentang hakikat itu.”
“Tapi aku sebuah sungai,” kata sungai itu dengan keras kepala, “bagaimana mungkin aku bisa menjadi hal-hal yang lain itu?”
“Oh, sungguh itu. Yah. Percayalah padaku,” jawab angin itu. “Cobalah untuk percaya kepadaku, nanti akan kutunjukkan kepadamu. Kamu dapat menjadi banyak hal, menjadi berbagai hal, tanpa kehilangan hakikatmu, temanku.”
Sungai yang takut dan tidak yakin itu merenung cukup lama, tetapi ia akhirnya memutuskan bahwa tak ada pilihan yang lebih baik.
“Kupikir aku sudah siap sekarang,” akhirnya ia berbisik kepada angin.
Sang angin kemudian mengangkat sungai itu dengan penuh kasih, mula-mula membelainya agar menjadi bentuk kabut uap air yang jauh lebih ringan, dan kemudian dengan lembut ia membawanya ke seberang padang gurun. Sungai itu menjadi santai. Dan kemudian sang angin menurunkannya sejauh mungkin di seberang sana, dan kemudian sungai itu melanjutkan perjalanannya lagi.
Sungai yang berkembang menjadi lebih bijaksana dari sebelumnya, kini mengalir maju dengan suatu hati yang baru, hati yang terbuka kepada berbagai kemungkinan yang jauh lebih besar.
Belajar dari keadaan serupa yang dihadapi sungai, kita tahu bahwa keluwesan, kepasrahan dan keterbukaan dapat membawa kita jauh lebih efektif ke arah tujuan.
ADA BAIKNYA BERTEMAN DENGAN KETIDAKPASTIAN.... SUPAYA KITA JADI PEKA TERHADAP SEMUA KEMUNGKINAN.
Rachel Naomi Remen
Label:
Goal Getting,
Keluwesan,
Motivasi
Langganan:
Postingan (Atom)
