Gerejani. Dogma. Kitab Suci. Pewartaan. Liturgi. Ajaran Sosial. Psikologi. Relasi.
Kamis, 03 Juni 2010
Pengingkaran atau Penyangkalan
Pengingkaran atau penyangkalan dalam kadar tertentu dialami setiap orang dan merupakan mekanisme bela diri yang kebanyakan dari kita tahu serba sedikit. Pengingkaran itu membuat kita lebih suka diam dan pelit dalam memberikan informasi. Dengan cara itu orang dapat terus menghayati sendiri apa yang tak diungkapkannya itu. Dalam beberapa situasi hidup, pengingkaran atau penyangkalan diperlukan agar orang mampu melewati situasi tertentu itu. Maka selalu ada pengingkaran atau penyangkalan pada kadar tertentu dalam diri semua orang, pada masa tertentu. Tetapi kalau pengingkaran itu terus menerus dilakukan sebagai cara menghindari kenyataan hidup, maka pengingkaran atau penyangkalan itu malahan bisa menjadi penyakit yang mengasingkan seseorang dari dirinya sendiri dan dari Allah. Pengingkaran atau penyangkalan lalu menjadi suatu proses memindahkan sepotong kecil pemahaman, dengan harapan bahwa hal itu lalu dapat menciptakan suatu gambaran yang lain. Pengingkaran semacam itu dilukiskan dalam sebagai “ketololan melakukan hal yang sama terus menerus dengan harapan bisa mendapatkan hasil yang berbeda-beda.”
Doa Triduum
Yesus, aku percaya
bahwa Engkau benar-benar hadir
dalam Sakramen Tubuh dan DarahMu yang penuh kasih ini.
Dengan kasih-Mu yang tak terbatas
Engkau mengasihi aku.
Di sini Kau menerima aku dengan tangan terbuka ;
dengan kasih karunia dan damai sejahtera Kau menyapa aku.
Di sini Kau memikirkan diriku senantiasa.
menyampaikan setiap untaian doa pada Bapa,
selalu berkenan menjadi perantara doa-doaku,
memohonkan segala sesuatu
yang membuatku
penuh dengan sukacita dan murni.
Ajarilah aku agar selalu taat akan perintah Bapa
dan mengutamakan pencarianku
akan Kerajaan Allah
serta segala kekudusan-Nya,
agar
Engkau, yang telah mengawali
karya penyelamatan
di dalam diriku,
dapat meneruskannya pada anakku, kerabat, sahabat
dan sesama yang disiapkan untuk menerima
Sakramen Tubuh dan Darah-Mu yang kudus,
hingga purna akhirnya. Amin.
bahwa Engkau benar-benar hadir
dalam Sakramen Tubuh dan DarahMu yang penuh kasih ini.
Dengan kasih-Mu yang tak terbatas
Engkau mengasihi aku.
Di sini Kau menerima aku dengan tangan terbuka ;
dengan kasih karunia dan damai sejahtera Kau menyapa aku.
Di sini Kau memikirkan diriku senantiasa.
menyampaikan setiap untaian doa pada Bapa,
selalu berkenan menjadi perantara doa-doaku,
memohonkan segala sesuatu
yang membuatku
penuh dengan sukacita dan murni.
Ajarilah aku agar selalu taat akan perintah Bapa
dan mengutamakan pencarianku
akan Kerajaan Allah
serta segala kekudusan-Nya,
agar
Engkau, yang telah mengawali
karya penyelamatan
di dalam diriku,
dapat meneruskannya pada anakku, kerabat, sahabat
dan sesama yang disiapkan untuk menerima
Sakramen Tubuh dan Darah-Mu yang kudus,
hingga purna akhirnya. Amin.
Kasih Dalam Kebenaran (1)
(Caritas In Veritate)
Surat Ensiklik Benediktus XVI
Terjemahan oleh: Bambang Kuss
Pendahuluan
1. KASIH DALAM KEBENARAN, yang untuknya Yesus Kristus dengan hidupNya di dunia dan terutama dengan wafat dan kebangkitanNya merupakan kesaksian, merupakan daya dorong utama di balik perkembangan yang autentik pada setiap orang dan pada segenap umat manusia. Kasih – caritas – merupakan suatu daya luar biasa yang membawa orang kepada pilihan keterlibatan yang berani dan murah hati di bidang keadilan dan perdamaian. Suatu daya dorong yang berasal dari Allah, Kasih yang Kekal dan Kebenaran Mutlak. Setiap orang mencari kesejahteraannya dengan mengikuti rencana Allah bagi dirinya, supaya dapat mewujudkan kesejahteraan itu sepenuhnya: dalam rencana ini, ia menemukan kebenaran, dan dengan mengikuti kebenaran itu ia menjadi bebas (bdk Yoh 8:32). Maka membela kebenaran, membahasakannya dengan rendah hati dan yakin, dan menjadi saksi bagi kebenaran itu dalam hidup, tentulah merupakan bentuk-bentuk kasih yang tak bisa dikesampingkan. Sesungguhnya kasih “bersuka cita dalam kebenaran” (1 Kor 13:6). Semua orang merasakan dorongan dari dalam dirinya untuk mengasihi secara autentik : kasih dan kebenaran sama sekali tak pernah meninggalkan mereka, karena kasih dan kebenaran itu merupakan panggilan yang ditanamkan Allah di dalam hati dan jiwa setiap manusia. Upaya mencari kasih dan kebenaran dimurnikan dan dibebaskan oleh Yesus Kristus dari kerusakan yang dibawa kemanusiaan kita, dan Ia mengungkapkan pada kita dengan sepenuhnya prakarsa kasih dan rencana bagi hidup sejati yang disiapkan Allah bagi kita. Dalam Kristus, kasih dalam kebenaran menjadi Wajah PribadiNya, suatu panggilan bagi kita untuk mengasihi saudara dan saudari kita dalam kebenaran rencanaNya. Sesungguhnya, Dia sendirilah Kebenaran itu (bdk Yoh 14:6).
Surat Ensiklik Benediktus XVI
Terjemahan oleh: Bambang Kuss
Pendahuluan
1. KASIH DALAM KEBENARAN, yang untuknya Yesus Kristus dengan hidupNya di dunia dan terutama dengan wafat dan kebangkitanNya merupakan kesaksian, merupakan daya dorong utama di balik perkembangan yang autentik pada setiap orang dan pada segenap umat manusia. Kasih – caritas – merupakan suatu daya luar biasa yang membawa orang kepada pilihan keterlibatan yang berani dan murah hati di bidang keadilan dan perdamaian. Suatu daya dorong yang berasal dari Allah, Kasih yang Kekal dan Kebenaran Mutlak. Setiap orang mencari kesejahteraannya dengan mengikuti rencana Allah bagi dirinya, supaya dapat mewujudkan kesejahteraan itu sepenuhnya: dalam rencana ini, ia menemukan kebenaran, dan dengan mengikuti kebenaran itu ia menjadi bebas (bdk Yoh 8:32). Maka membela kebenaran, membahasakannya dengan rendah hati dan yakin, dan menjadi saksi bagi kebenaran itu dalam hidup, tentulah merupakan bentuk-bentuk kasih yang tak bisa dikesampingkan. Sesungguhnya kasih “bersuka cita dalam kebenaran” (1 Kor 13:6). Semua orang merasakan dorongan dari dalam dirinya untuk mengasihi secara autentik : kasih dan kebenaran sama sekali tak pernah meninggalkan mereka, karena kasih dan kebenaran itu merupakan panggilan yang ditanamkan Allah di dalam hati dan jiwa setiap manusia. Upaya mencari kasih dan kebenaran dimurnikan dan dibebaskan oleh Yesus Kristus dari kerusakan yang dibawa kemanusiaan kita, dan Ia mengungkapkan pada kita dengan sepenuhnya prakarsa kasih dan rencana bagi hidup sejati yang disiapkan Allah bagi kita. Dalam Kristus, kasih dalam kebenaran menjadi Wajah PribadiNya, suatu panggilan bagi kita untuk mengasihi saudara dan saudari kita dalam kebenaran rencanaNya. Sesungguhnya, Dia sendirilah Kebenaran itu (bdk Yoh 14:6).
Kasih
Dalam Kitab Suci kasih digambarkan sebagai kehendak baik yang aktif bekerja, yang dinyatakan dalam tindakan khusus pada sesama. Menurut 1 Yoh 4:8 hakekat yang sejati dari Allah adalah Kasih, dan kasih dicantumkan dalam Kitab Suci sebagai salah satu tema pokok di dalam hubungan antara Tuhan dan manusia. Tentu, kasih merupakan dasar dari ciptaan dan dasar rencana ilahi untuk penebusan. Karena kasihNya yang melimpah Allah rela memberikan PuteraNya sendiri untuk mendatangkan keselamatan kepada dunia yang berdosa (Yoh 3:16; Rm 5:8-9; 1 Yoh 4:9). Maka tugas kita yang paling utama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati (Ul 6:5; Mat 22:37). Kita juga harus mengasihi sesama kita (Mat 19:18; 1 Yoh 4:11-21). Yesus memerintahkan hal itu sedemikian sehingga kasih merupakan tanda yang khas bagi murid-muridNya (Yoh 13:34-35; bdk Luk 10:25-37). Kasih adalah kebajikan “teologis” [yang terarah pada Tuhan] yang terbesar di antara kebajikan “teologis”: iman, harapan dan kasih, yang tetap bertahan sekalipun sesudah kematian (1 Kor 13:13).
I. Kasih dalam Perjanjian Lama
A. Cakupan Makna
Di dalam Perjanjian Lama, sejumlah kata digunakan untuk kasih, namun yang paling umum adalah kata kerja ‘ahab, yang muncul menjadi kata benda lebih dari dua ratus kali dalam Kitab Suci Ibrani. Kata ini bisa mempunyai makna agamis maupun non-agamis dengan menunjuk pada cinta di antara sesama manusia, cinta pada berbagai hal atau barang-barang, kasih manusia pada Tuhan dan kasih ilahi yang diungkapkan Tuhan pada umatNya.
Ketika mengartikannya sebagai cinta di antara manusia, ‘ahab menggambarkan seluruh spektrum (lingkup) afeksi manusia (Kej 29:18; 34:3; Hak 16:4; Yes 57:8), termasuk cinta berahi dan daya tarik seksual (Kid 1:7; 2:4; 3:1; 5:8; 8:6-7; Ams 5:19). Daya tarik seperti itu mungkin pada akhirnya membuahkan perkawinan (1 Sam 18:20), atau sekedar hasrat seks saja (2 Sam 13:1-2; Yer 2:25). Demikian pula ‘ahab bisa menyangkut ungkapan hubungan yang sangat akrab dan ikatan timbal balik seperti di antara suami-isteri (1 Sam 1:5), orangtua-anak (Kej 22:2; 25:28) atau persahabatan seperti di antara Daud dan Yonatan (1 Sam 18:1; 2 Sam 1:26).
B. Kasih Allah yang Tulus Rela
Perintah terbesar dari Hukum dan seluruh Perjanjian Lama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:5; bdk 10:12; 11:1.13.22; 13:4; 19:9; 30:6.16.20). Perintah ini membentuk dasar hubungan Israel dengan Tuhan. Kasih Allah kepada Israel diberikan dengan bebas, dan sejarah keterpilihan Israel, termasuk janji-janji yang disampaikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub (Kej 12-50), serta pembebasan Israel dari belenggu di Mesir menunjukkan kasih itu. Kasih Tuhan adalah tulus rela dan diberikan cuma-cuma: kasih itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan sejarah keselamatan (Mzm 47:5; 87:2; Yes 43:4) dan penyampaian rahmat Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Dalam menanggapi kasih Tuhan, Israel diharapkan timbal balik. Kitab Hosea mengungkapkan hubungan itu dalam kerangka perkawinan (Hos 2): “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Tuhan. Maka pada waktu itu, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi” (Hos 2:19-20). Tuhan berhubungan dengan Israel seperti seseorang lelaki yang jatuh hati pada seorang wanita, dan Israel diharapkan memberikan jawabannya (bdk Hos 11:1-4).
Kasih Tuhan tak pernah pudar (Ul 4:37; Yes 43:4; Mzm 33:5; Yer 21:3), namun kesetiaan Israel diuji dan terbukti lemah; kegagalannya adalah dalam memenuhi kewajiban yang utama untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Israel diharapkan membalas kasih setia Tuhan pada mereka, dengan melaksanakan perintah-perintahNya (Ul 10:12; 11:1.22; 30:16). Pada intinya, hubungan itu berakar pada perjanjian di antara Tuhan dan Israel. Perjanjian telah menjelaskan bagaimana kasih dapat diungkapkan dalam perintah-perintah, seperti diuraikan dalam ketentuan-ketentuan Kitab Ulangan. Ketentuan perjanjian di Timur Dekat kuno – yaitu yang diselenggarakan di antara raja besar dan raja-raja bawahan – umumnya menggunakan bahasa “kasih” untuk menguraikan kewajiban kesetiaan yang mengikat di antara pihak-pihak yang melakukan perjanjian. Dalam hal ini dan dalam pelbagai hal lainnya, kitab Ulangan dan perjanjian yang ditetapkan di antara Tuhan dan Israel mencerminkan perjanjian-perjanjian internasional di antara raja-raja besar dan para raja bawahan itu.
II. Kasih dalam Perjanjian Baru
Pada intinya, sejarah keselamatan membangun suatu komunitas kasih yang sempurna : Tritunggal Kudus. Dalam keluarga ilahi yang sempurna ini Bapa mengasihi Putera, Putera mengasihi Bapa (Yoh 14:31) dan Roh Kudus menjadi ikatan kasih (bdk Rm 5:5) di antara Bapa dan Putera. Dari kasih keluarga ilahi ini, seluruh rencana keselamatan ciptaan mengalir, sebab maksudNya atas cptaan ini adalah agar manusia dapat ikut serta dalam hidup ilahi sebagai anak-anak dalam Putera (Katekismus Gereja Katolik [atau KGK] no. 218-221).
A. Istilah-istilah “Kasih”
Kata Yunani untuk kasih, agapao dan agape (yang menggambarkan kasih yang rela atau sengaja diikatkan), muncul lebih dari tiga ratus kali dalam Perjanjian Baru. Kata yang mirip, seperti phileo dan philia (yang mungkin berarti kasih rela dan kadang-kadang kasih persahabatan), juga muncul sama seringnya, namun agape tetap merupakan ungkapan yang utama untuk kasih dalam Perjanjian Baru. Bahwa kata itu jarang digunakan dalam tulisan sekular Yunani mungkin menjelaskan, mengapa kata ini banyak digunakan dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu sebagai kata yang membantu menunjukkan perspektif yang unik mengenai kasih yang diwartakan umat Kristen. Kata Yunani eros yang berarti cinta berahi atau cinta seksual tidak digunakan dalam Perjanjian Baru.
B. Kasih dalam Injil Sinoptik
Injil-injil Sinoptik mencantumkan perintah untuk mengasihi Allah Tuhan kita dengan sepenuh keberadaan kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Mat 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Kedua perintah ini diambil dari Ul 6:5 dan Im 19:18. Yesus menyatakan bahwa kedua perintah itu harus dilaksanakan. Dalam Injil Lukas, Ia menjawab pertanyaan “siapa sesamaku?” dengan Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:29-37). Dengan mengangkat seorang Samaria sebagai sesama yang baik (orang Yahudi sedah sejak lama memusuhi orang Samaria), Yesus menjadikan jelas bahwa dari kita Ia menuntut lebih dari sekedar mengasihi sahabat atau kerabat kita saja; ia meminta kesediaan kita untuk mengasihi bahkan orang yang tidak kita kenal, orang asing, dan musuh-musuh (Luk 6:27.32-36; Mat 5:43-48).
Dengan melaksanakan perintah Yesus untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, dan untuk mengasihi musuh-musuh kita, kita menunjukkan kesediaan kita untuk hidup seperti Bapa. Kasih Allah diwujudkan dalam dan melalui Kristus dan karyaNya, termasuk menyembuhkan yang sakit dan merangkul para pendosa. Dengan demikian Allah menyampaikan kasih, kerahiman dan ampunanNya kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya (Mat 18:23-35; Luk 15:11-32). Tuhan ambil prakarsa – seperti dalam Perjanjian Lama – dan sepenuhnya tidak memandang jasa-jasa (Mat 10:6; 18:12-14; Luk 19:10).
C. Kasih dalam Tulisan Yohanes
Yohanes lebih condong pada istilah “kasih” yang menggambarkan perhatian Allah yang bebas dan tanpa hitungan pada kita. Kasih Allah pada kita itulah yang menyebabkan Dia mengutus PuteraNya sendiri ke dunia supaya Ia memberikan kepada kita hidup kekal (1 Yoh 4:9; Yoh 3:16; 13:34-35), dan hidup Allah dalam diri kita ditunjukkan dengan saling mengasihi satu sama lain: “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:12; 3:24; 4:10). Yesus adalah Putera Allah yang tunggal (Yoh 1:130 dan Ia dikasihi Bapa (Yoh 3:35; 10:17; 15:9; 17:24). Sebaliknya, Putera mengasihi Bapa dan melakukan apa yang diperintahkan Bapa kepadaNya (Yoh 14:31; 15:10). Yesus juga mengasihi sahabat-sahabatnya begitu dalam sehingga Ia rela menyerahkan nyawaNya demi mereka (Yes 13:1; 1 Yoh 3:16) supaya membuat mereka dan kita bisa menjadi anak-anak angkat Bapa (1 Yoh 3:1).
Sebagai timbal baliknya, para murid diharapkan menunjukkan kasih mereka dengan meneladan kasih Putera dan Bapa yang menyatukan (Yoh 17:21-23). Sedemikian besarnya kasih itu sehingga bukan hanya kata-kata belaka; kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan (1 Yoh 3:18), termasuk melaksanakan perintah Yesus (Yoh 14:15.21.23; 1 Yoh 5:3). Umat Kristen harus aling mengasihi satu sama lain (Yoh 13:34; 15:17) seperti kasih Kristus pada mereka (Yoh 15:12). Dalam Kristus yang mengasihi, kita dikasihi Bapa, dan Bapa serta Kristus akan tinggal dalam kita (Yoh 17:23-26).
D. Kasih dalam Tulisan Paulus
Sebanyak yang dilakukan Yohanes, Paulus menggunakan ancangan tiga bagian pada kasih: kasih pada Allah Bapa, kasih pada Kristus, dan kasih pada sesama demi Kristus dan Bapa. Penebusan kita melalui Kristus merupakan tanda yang sungguh agung dari kasih Allah kepada kita masing-masing: “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Kasihlah yang membuat Yesus Kristus diutus ke dunia dan kasih lah yang membuat Dia berkorban hingga wafat di Salib (Rm 5:8; Ef 5:2). Kasih Kristus kepada manusia membentuk dasar kehidupan Kristen. Kita mendapatkan manfaat dari pengorbanan kasih itu dalam penyerahan diri secara total kepada Kristus melalui iman.
Paulus menyampaikan ungkapan Perjanjian Baru yang paling mendalam mengenai konsep Kristen mengenai kasih di dalam 1 Kor 13, di mana ia mengajarkan bahwa ciri utama komunitas Kristen haruslah kasih. Karunia-karunia seperti kemampuan berbahasa dan bernubuat sama sekali tak ada harganya jika tanpa kasih (1 Kor 13:1-3). Ia kemudian melukiskan ciri-ciri pokok dari kasih: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7). Kasih tak berkesudahan, tidak seperti nubuat dan kemampuan berbahasa; kasih tetap bertahan hingga akhir zaman, ketika segalanya akan disempurnakan. “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:12-13).
I. Kasih dalam Perjanjian Lama
A. Cakupan Makna
Di dalam Perjanjian Lama, sejumlah kata digunakan untuk kasih, namun yang paling umum adalah kata kerja ‘ahab, yang muncul menjadi kata benda lebih dari dua ratus kali dalam Kitab Suci Ibrani. Kata ini bisa mempunyai makna agamis maupun non-agamis dengan menunjuk pada cinta di antara sesama manusia, cinta pada berbagai hal atau barang-barang, kasih manusia pada Tuhan dan kasih ilahi yang diungkapkan Tuhan pada umatNya.
Ketika mengartikannya sebagai cinta di antara manusia, ‘ahab menggambarkan seluruh spektrum (lingkup) afeksi manusia (Kej 29:18; 34:3; Hak 16:4; Yes 57:8), termasuk cinta berahi dan daya tarik seksual (Kid 1:7; 2:4; 3:1; 5:8; 8:6-7; Ams 5:19). Daya tarik seperti itu mungkin pada akhirnya membuahkan perkawinan (1 Sam 18:20), atau sekedar hasrat seks saja (2 Sam 13:1-2; Yer 2:25). Demikian pula ‘ahab bisa menyangkut ungkapan hubungan yang sangat akrab dan ikatan timbal balik seperti di antara suami-isteri (1 Sam 1:5), orangtua-anak (Kej 22:2; 25:28) atau persahabatan seperti di antara Daud dan Yonatan (1 Sam 18:1; 2 Sam 1:26).
B. Kasih Allah yang Tulus Rela
Perintah terbesar dari Hukum dan seluruh Perjanjian Lama adalah “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu” (Ul 6:5; bdk 10:12; 11:1.13.22; 13:4; 19:9; 30:6.16.20). Perintah ini membentuk dasar hubungan Israel dengan Tuhan. Kasih Allah kepada Israel diberikan dengan bebas, dan sejarah keterpilihan Israel, termasuk janji-janji yang disampaikan kepada Abraham, Ishak dan Yakub (Kej 12-50), serta pembebasan Israel dari belenggu di Mesir menunjukkan kasih itu. Kasih Tuhan adalah tulus rela dan diberikan cuma-cuma: kasih itu merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan sejarah keselamatan (Mzm 47:5; 87:2; Yes 43:4) dan penyampaian rahmat Tuhan kepada seluruh umat manusia.
Dalam menanggapi kasih Tuhan, Israel diharapkan timbal balik. Kitab Hosea mengungkapkan hubungan itu dalam kerangka perkawinan (Hos 2): “Aku akan menjadikan engkau isteri-Ku dalam kesetiaan, sehingga engkau akan mengenal Tuhan. Maka pada waktu itu, demikianlah firman Tuhan, Aku akan mendengarkan langit, dan langit akan mendengarkan bumi” (Hos 2:19-20). Tuhan berhubungan dengan Israel seperti seseorang lelaki yang jatuh hati pada seorang wanita, dan Israel diharapkan memberikan jawabannya (bdk Hos 11:1-4).
Kasih Tuhan tak pernah pudar (Ul 4:37; Yes 43:4; Mzm 33:5; Yer 21:3), namun kesetiaan Israel diuji dan terbukti lemah; kegagalannya adalah dalam memenuhi kewajiban yang utama untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap kekuatan. Israel diharapkan membalas kasih setia Tuhan pada mereka, dengan melaksanakan perintah-perintahNya (Ul 10:12; 11:1.22; 30:16). Pada intinya, hubungan itu berakar pada perjanjian di antara Tuhan dan Israel. Perjanjian telah menjelaskan bagaimana kasih dapat diungkapkan dalam perintah-perintah, seperti diuraikan dalam ketentuan-ketentuan Kitab Ulangan. Ketentuan perjanjian di Timur Dekat kuno – yaitu yang diselenggarakan di antara raja besar dan raja-raja bawahan – umumnya menggunakan bahasa “kasih” untuk menguraikan kewajiban kesetiaan yang mengikat di antara pihak-pihak yang melakukan perjanjian. Dalam hal ini dan dalam pelbagai hal lainnya, kitab Ulangan dan perjanjian yang ditetapkan di antara Tuhan dan Israel mencerminkan perjanjian-perjanjian internasional di antara raja-raja besar dan para raja bawahan itu.
II. Kasih dalam Perjanjian Baru
Pada intinya, sejarah keselamatan membangun suatu komunitas kasih yang sempurna : Tritunggal Kudus. Dalam keluarga ilahi yang sempurna ini Bapa mengasihi Putera, Putera mengasihi Bapa (Yoh 14:31) dan Roh Kudus menjadi ikatan kasih (bdk Rm 5:5) di antara Bapa dan Putera. Dari kasih keluarga ilahi ini, seluruh rencana keselamatan ciptaan mengalir, sebab maksudNya atas cptaan ini adalah agar manusia dapat ikut serta dalam hidup ilahi sebagai anak-anak dalam Putera (Katekismus Gereja Katolik [atau KGK] no. 218-221).
A. Istilah-istilah “Kasih”
Kata Yunani untuk kasih, agapao dan agape (yang menggambarkan kasih yang rela atau sengaja diikatkan), muncul lebih dari tiga ratus kali dalam Perjanjian Baru. Kata yang mirip, seperti phileo dan philia (yang mungkin berarti kasih rela dan kadang-kadang kasih persahabatan), juga muncul sama seringnya, namun agape tetap merupakan ungkapan yang utama untuk kasih dalam Perjanjian Baru. Bahwa kata itu jarang digunakan dalam tulisan sekular Yunani mungkin menjelaskan, mengapa kata ini banyak digunakan dalam tulisan-tulisan Perjanjian Baru, yaitu sebagai kata yang membantu menunjukkan perspektif yang unik mengenai kasih yang diwartakan umat Kristen. Kata Yunani eros yang berarti cinta berahi atau cinta seksual tidak digunakan dalam Perjanjian Baru.
B. Kasih dalam Injil Sinoptik
Injil-injil Sinoptik mencantumkan perintah untuk mengasihi Allah Tuhan kita dengan sepenuh keberadaan kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri sendiri (Mat 22:34-40; Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28). Kedua perintah ini diambil dari Ul 6:5 dan Im 19:18. Yesus menyatakan bahwa kedua perintah itu harus dilaksanakan. Dalam Injil Lukas, Ia menjawab pertanyaan “siapa sesamaku?” dengan Perumpamaan tentang Orang Samaria yang Baik Hati (Luk 10:29-37). Dengan mengangkat seorang Samaria sebagai sesama yang baik (orang Yahudi sedah sejak lama memusuhi orang Samaria), Yesus menjadikan jelas bahwa dari kita Ia menuntut lebih dari sekedar mengasihi sahabat atau kerabat kita saja; ia meminta kesediaan kita untuk mengasihi bahkan orang yang tidak kita kenal, orang asing, dan musuh-musuh (Luk 6:27.32-36; Mat 5:43-48).
Dengan melaksanakan perintah Yesus untuk mengasihi sesama seperti diri sendiri, dan untuk mengasihi musuh-musuh kita, kita menunjukkan kesediaan kita untuk hidup seperti Bapa. Kasih Allah diwujudkan dalam dan melalui Kristus dan karyaNya, termasuk menyembuhkan yang sakit dan merangkul para pendosa. Dengan demikian Allah menyampaikan kasih, kerahiman dan ampunanNya kepada mereka yang tidak layak mendapatkannya (Mat 18:23-35; Luk 15:11-32). Tuhan ambil prakarsa – seperti dalam Perjanjian Lama – dan sepenuhnya tidak memandang jasa-jasa (Mat 10:6; 18:12-14; Luk 19:10).
C. Kasih dalam Tulisan Yohanes
Yohanes lebih condong pada istilah “kasih” yang menggambarkan perhatian Allah yang bebas dan tanpa hitungan pada kita. Kasih Allah pada kita itulah yang menyebabkan Dia mengutus PuteraNya sendiri ke dunia supaya Ia memberikan kepada kita hidup kekal (1 Yoh 4:9; Yoh 3:16; 13:34-35), dan hidup Allah dalam diri kita ditunjukkan dengan saling mengasihi satu sama lain: “Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita” (1 Yoh 4:12; 3:24; 4:10). Yesus adalah Putera Allah yang tunggal (Yoh 1:130 dan Ia dikasihi Bapa (Yoh 3:35; 10:17; 15:9; 17:24). Sebaliknya, Putera mengasihi Bapa dan melakukan apa yang diperintahkan Bapa kepadaNya (Yoh 14:31; 15:10). Yesus juga mengasihi sahabat-sahabatnya begitu dalam sehingga Ia rela menyerahkan nyawaNya demi mereka (Yes 13:1; 1 Yoh 3:16) supaya membuat mereka dan kita bisa menjadi anak-anak angkat Bapa (1 Yoh 3:1).
Sebagai timbal baliknya, para murid diharapkan menunjukkan kasih mereka dengan meneladan kasih Putera dan Bapa yang menyatukan (Yoh 17:21-23). Sedemikian besarnya kasih itu sehingga bukan hanya kata-kata belaka; kasih itu harus diwujudkan dalam tindakan (1 Yoh 3:18), termasuk melaksanakan perintah Yesus (Yoh 14:15.21.23; 1 Yoh 5:3). Umat Kristen harus aling mengasihi satu sama lain (Yoh 13:34; 15:17) seperti kasih Kristus pada mereka (Yoh 15:12). Dalam Kristus yang mengasihi, kita dikasihi Bapa, dan Bapa serta Kristus akan tinggal dalam kita (Yoh 17:23-26).
D. Kasih dalam Tulisan Paulus
Sebanyak yang dilakukan Yohanes, Paulus menggunakan ancangan tiga bagian pada kasih: kasih pada Allah Bapa, kasih pada Kristus, dan kasih pada sesama demi Kristus dan Bapa. Penebusan kita melalui Kristus merupakan tanda yang sungguh agung dari kasih Allah kepada kita masing-masing: “Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku” (Gal 2:20). Kasihlah yang membuat Yesus Kristus diutus ke dunia dan kasih lah yang membuat Dia berkorban hingga wafat di Salib (Rm 5:8; Ef 5:2). Kasih Kristus kepada manusia membentuk dasar kehidupan Kristen. Kita mendapatkan manfaat dari pengorbanan kasih itu dalam penyerahan diri secara total kepada Kristus melalui iman.
Paulus menyampaikan ungkapan Perjanjian Baru yang paling mendalam mengenai konsep Kristen mengenai kasih di dalam 1 Kor 13, di mana ia mengajarkan bahwa ciri utama komunitas Kristen haruslah kasih. Karunia-karunia seperti kemampuan berbahasa dan bernubuat sama sekali tak ada harganya jika tanpa kasih (1 Kor 13:1-3). Ia kemudian melukiskan ciri-ciri pokok dari kasih: “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu” (1 Kor 13:4-7). Kasih tak berkesudahan, tidak seperti nubuat dan kemampuan berbahasa; kasih tetap bertahan hingga akhir zaman, ketika segalanya akan disempurnakan. “Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.” (1 Kor 13:12-13).
Jalan
Istilah “jalan” digunakan dalam beberapa arti dalam Kitab Suci, dan mencapai titik puncaknya pada Kristus yang adalah “jalan, kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6).
I. Dalam Perjanjian Lama
A. Jalan Sebagai Cara Hidup
Dalam Perjanjian Lama, kata “jalan” (Bahasa Ibrani derek) sering menyandang arti harfiah sebagai jalan atau perjalanan, tetapi juga biasa digunakan sebagai kiasan untuk arah hidup seseorang (Yos 1:8; Ayb 23:10; 31:4). Perjalanan manusia melalui hidup merupakan suatu misteri (Ams 20:24) yang pada ujungnya berakhir dengan kematian fisik, inilah “jalan” yang umum bagi setiap orang (1 Raj 2:2; Ams 14:12). Hari-hari yang dijalani setiap orang pasti akan berakhir (Yos 23:14; Ayb 16:22). Ada suatu beda kontras di antara jalan-jalan (atau lorong-lorong) Tuhan dengan jalan orang yang semberono. Jurang di antara rancangan Tuhan dan rancangan manusia diungkapkan dalam Yes 55:8-9, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”.
B. Jalan Tuhan dan Jalan Orang Fasik
Juga ada kontras perbedaan di antara jalan-jalan yang benar dari Allah dan jalan orang fasik (Yeh 18:25). Dalam pengertian inilah perintah Allah memanggil untuk mengikuti jalanNya (Kej 18:19; Kel 18:20; Hak 2:22), yang bertentangan jalan-jalan manusia yang rusak. Maka di sini jalan dalam diartikan perilaku manusia (1 Raj 2:4; 8:25; 2 Taw 6:16; Mzm 119:1-9), yang digambarkan sebagai baik atau buruk (Ayb 31|:7; Mzm 1:1.6; bdk Mat 21:32); baik atau buruk sama-sama diketahui Tuhan (Ayb 24:23; Mzm 119-168). Dua jalan terbentang di depan kita: yang satu membawa kita kepada hidup, kedamaian dan kebahagiaan; yang lain membawa kita pada kesulitan, ketidakbahagiaan dan kematian (Ams 3:17; 7:27; Yer 21:8; bdk Mat 7:13).
Setiap orang harus menanggung akibat perbuatannya (Yer 4:18), namun Tuhan mengharapkan agar orang fasik berbalik menjauh dari jalan yang jahat dan mengikuti jalan keselamatan. “Tetapi teman-temanmu sebangsa berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat. Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup karena itu. Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Aku akan menghakimi kamu, masing-masing menurut kelakuannya, hai kaum Israel." (Yeh 33:17-20).
Orang yang benar mendengarkan kata-kata hikmat (Ams 6:23), jalan damai (Yes 59:8). Jalan hikmat tidak lain adalah jalan yang dinyatakan Tuhan untuk umatNya (Kel 32:8) dan jalan itu menyukakan Dia (Ams 16:7; bdk 1 Sam 12:23). Yang terutama, dalam mengantisipasi Perjanjian Baru, Mzm 16:11 menyatakan: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa”. Para nabi mewartakan “jalan Tuhan” ketika Tuhan yang agung melawati umatNya (Yes 40:3; Mal 3:1).
II. Dalam Perjanjian Baru
A. Dua Jalan
Dalam Perjanjian Baru tema tentang dua jalan – yang satu mengantar pada hidup, yang lain ke arah kematian – dirumuskan dalam Injil-injil berdasarkan penerimaan atau penolakan seseorang pada Kristus. Penerimaan Kristus adalah jalan kepada hidup (Mat 3:3; Mrk 1:2; Luk 3:4; 7:27; Yoh 1:23), jalan damai (Luk 1:79; Kis 13:10; 2 Ptr 2:2). Yang utama, Kristus sendiri menyebut diriNya jalan ke arah Bapa di surga (Yoh 14:6; Ibr 9:8; 10:20). Didakhe 1-6 mengulangi gagasan tentang dua jalan ini, dengan pengertian bahwa yang menjadi jalan hidup adalah Kristus: “Ada dua jalan, yang satu jalan hidup, yang lain jalan kematian; dan di antara keduanya terdapat jurang perbedaan yang besar” (Katekismus Gereja Katolik, [disingkat KGK] no.1696).
Jalan para murid Kristen adalah kasih (1 Kor 12:31). Jalan keselamatan ini diwartakan para rasul (Kis 16:17) dan diajarkan pada para pemeluk baru agama Kristen. Bahwa jalan itu adalah jalan yang tidak gampang dikatakan dalam Injil Matius: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:13-14; bdk Luk 13:24).
B. Kristus Adalah Jalan
Yesus menyebut diriNya jalan, ketika menjawab suatu pertanyaan dalam Injil Yohanes dengan perkataan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Sebagai Allah yang menjadi manusia, Kristus sendiri adalah jalan yang mengantar kepada hidup: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:19-22).
C. Gereja pun Juga Jalan
Karena Kristus mendirikan Gereja sebagai sakramen kehadiran dan rahmatNya di dunia, maha Gereja juga disebut jalan. Kata “jalan” ini dulunya digunakan sebagai sebutan gerakan orang Kristen sendiri (Kis 9:2; 19:9; 22:4). Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium [disingkat LG] tentang Gereja menyatakan bahwa: “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (bdk Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya” (LG art 14; bdk Dekrit Ad Gentes art 7; Unitatis Redintegratio art 3) (KGK 846-847). Maka “penting sekali untuk berpegang pada kedua kebenaran ini sekaligus, yaitu kemungkinan nyata keselamatan dalam Kristus bagi semua manusia, dan perlunya Gereja bagi keselamatan ini” (Ensiklik Redemptoris Missio, art 9; CDF, Dominus Iesus, art 20)
I. Dalam Perjanjian Lama
A. Jalan Sebagai Cara Hidup
Dalam Perjanjian Lama, kata “jalan” (Bahasa Ibrani derek) sering menyandang arti harfiah sebagai jalan atau perjalanan, tetapi juga biasa digunakan sebagai kiasan untuk arah hidup seseorang (Yos 1:8; Ayb 23:10; 31:4). Perjalanan manusia melalui hidup merupakan suatu misteri (Ams 20:24) yang pada ujungnya berakhir dengan kematian fisik, inilah “jalan” yang umum bagi setiap orang (1 Raj 2:2; Ams 14:12). Hari-hari yang dijalani setiap orang pasti akan berakhir (Yos 23:14; Ayb 16:22). Ada suatu beda kontras di antara jalan-jalan (atau lorong-lorong) Tuhan dengan jalan orang yang semberono. Jurang di antara rancangan Tuhan dan rancangan manusia diungkapkan dalam Yes 55:8-9, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu”.
B. Jalan Tuhan dan Jalan Orang Fasik
Juga ada kontras perbedaan di antara jalan-jalan yang benar dari Allah dan jalan orang fasik (Yeh 18:25). Dalam pengertian inilah perintah Allah memanggil untuk mengikuti jalanNya (Kej 18:19; Kel 18:20; Hak 2:22), yang bertentangan jalan-jalan manusia yang rusak. Maka di sini jalan dalam diartikan perilaku manusia (1 Raj 2:4; 8:25; 2 Taw 6:16; Mzm 119:1-9), yang digambarkan sebagai baik atau buruk (Ayb 31|:7; Mzm 1:1.6; bdk Mat 21:32); baik atau buruk sama-sama diketahui Tuhan (Ayb 24:23; Mzm 119-168). Dua jalan terbentang di depan kita: yang satu membawa kita kepada hidup, kedamaian dan kebahagiaan; yang lain membawa kita pada kesulitan, ketidakbahagiaan dan kematian (Ams 3:17; 7:27; Yer 21:8; bdk Mat 7:13).
Setiap orang harus menanggung akibat perbuatannya (Yer 4:18), namun Tuhan mengharapkan agar orang fasik berbalik menjauh dari jalan yang jahat dan mengikuti jalan keselamatan. “Tetapi teman-temanmu sebangsa berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat. Jikalau orang benar berbalik dari kebenarannya dan melakukan kecurangan, ia harus mati karena itu. Sebaliknya, kalau orang fasik bertobat dari kefasikannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia pasti hidup karena itu. Tetapi kamu berkata: Tindakan Tuhan tidak tepat! Aku akan menghakimi kamu, masing-masing menurut kelakuannya, hai kaum Israel." (Yeh 33:17-20).
Orang yang benar mendengarkan kata-kata hikmat (Ams 6:23), jalan damai (Yes 59:8). Jalan hikmat tidak lain adalah jalan yang dinyatakan Tuhan untuk umatNya (Kel 32:8) dan jalan itu menyukakan Dia (Ams 16:7; bdk 1 Sam 12:23). Yang terutama, dalam mengantisipasi Perjanjian Baru, Mzm 16:11 menyatakan: “Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa”. Para nabi mewartakan “jalan Tuhan” ketika Tuhan yang agung melawati umatNya (Yes 40:3; Mal 3:1).
II. Dalam Perjanjian Baru
A. Dua Jalan
Dalam Perjanjian Baru tema tentang dua jalan – yang satu mengantar pada hidup, yang lain ke arah kematian – dirumuskan dalam Injil-injil berdasarkan penerimaan atau penolakan seseorang pada Kristus. Penerimaan Kristus adalah jalan kepada hidup (Mat 3:3; Mrk 1:2; Luk 3:4; 7:27; Yoh 1:23), jalan damai (Luk 1:79; Kis 13:10; 2 Ptr 2:2). Yang utama, Kristus sendiri menyebut diriNya jalan ke arah Bapa di surga (Yoh 14:6; Ibr 9:8; 10:20). Didakhe 1-6 mengulangi gagasan tentang dua jalan ini, dengan pengertian bahwa yang menjadi jalan hidup adalah Kristus: “Ada dua jalan, yang satu jalan hidup, yang lain jalan kematian; dan di antara keduanya terdapat jurang perbedaan yang besar” (Katekismus Gereja Katolik, [disingkat KGK] no.1696).
Jalan para murid Kristen adalah kasih (1 Kor 12:31). Jalan keselamatan ini diwartakan para rasul (Kis 16:17) dan diajarkan pada para pemeluk baru agama Kristen. Bahwa jalan itu adalah jalan yang tidak gampang dikatakan dalam Injil Matius: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Mat 7:13-14; bdk Luk 13:24).
B. Kristus Adalah Jalan
Yesus menyebut diriNya jalan, ketika menjawab suatu pertanyaan dalam Injil Yohanes dengan perkataan “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6). Sebagai Allah yang menjadi manusia, Kristus sendiri adalah jalan yang mengantar kepada hidup: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri, dan kita mempunyai seorang Imam Besar sebagai kepala Rumah Allah. Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni” (Ibr 10:19-22).
C. Gereja pun Juga Jalan
Karena Kristus mendirikan Gereja sebagai sakramen kehadiran dan rahmatNya di dunia, maha Gereja juga disebut jalan. Kata “jalan” ini dulunya digunakan sebagai sebutan gerakan orang Kristen sendiri (Kis 9:2; 19:9; 22:4). Konstitusi Konsili Vatikan II Lumen Gentium [disingkat LG] tentang Gereja menyatakan bahwa: “Gereja yang sedang mengembara ini perlu untuk keselamatan. Sebab hanya satulah Pengantara dan jalan keselamatan, yakni Kristus. Ia hadir bagi kita dalam tubuh-Nya, yakni Gereja. Dengan jelas-jelas menegaskan perlunya iman dan baptis (bdk Mrk 16:16; Yoh 3:5). Kristus sekaligus menegaskan perlunya Gereja, yang dimasuki orang-orang melalui baptis bagaikan pintunya” (LG art 14; bdk Dekrit Ad Gentes art 7; Unitatis Redintegratio art 3) (KGK 846-847). Maka “penting sekali untuk berpegang pada kedua kebenaran ini sekaligus, yaitu kemungkinan nyata keselamatan dalam Kristus bagi semua manusia, dan perlunya Gereja bagi keselamatan ini” (Ensiklik Redemptoris Missio, art 9; CDF, Dominus Iesus, art 20)
Label:
Kitab Suci; Tradisi; Jalan
Rabu, 02 Juni 2010
Kebangkitan
Orang yang sudah mati bangun dan hidup kembali. Dalam teks Kitab Suci ada beberapa orang yang dibangkitkan dari kematian, dan menurut teks nabi-nabi dalam Kitab Suci, semua orang dipastikan akan mengalami kebangkitan.
I.Kebangkitan dalam Perjanjian Lama
Di dalam Perjanjian Lama, tempat orang mati disebut Syeol dan digambarkan sebagai suatu tempat di mana orang mati tinggal di tengah kesunyian yang dalam dan kegelapan (Mzm 94:17; Ams 5:5; 7:27) dan tidak ingat kepada Sang Pencipta (Mzm 6:5; 88:12; 15:17). Dalam Perjanjian Lama manusia dianggap terdiri dari campuran jiwa dan badan (Kej 2:7-8), maka kematian berarti kembalinya badan menjadi tanah lagi (Kej 3:19) sedang jiwa yang kekal masuk ke dalam Syeol. Kebangkitan dengan demikian berarti bersatunya lagi badan dan jiwa, masuk kembali dalam realisme hidup.
Baik nabi Elia maupun nabi Elisa membangkitkan orang dari mati (1 Rraj 17:17-24; 2 Raj 4:18-37; 13:20.21). Di luar itu kita tidak mengetahui cerita historis lainnya tentang kebangkitan dari mati dari Perjanjian Lama.
Kebangkitan sebagai suatu ajaran dan harapan untuk masa depan adalah suatu konsep yang dikembangkan secara berangsur-angsur. Dasar dari kebangkitan adalah keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan atas hidup dan mati; Ia bisa melakukan dua-duanya, “menghidupkan” atau “mematikan” (Ul 32:39). Ia dapat mengangkat orang dari dalam Syeol (1 2:6; Keb 16:13). Para nabi yang lebih terdahulu sedikit menangkap rencana Allah untuk membangkitkan Israel dari maut (Yes 26:19; Hos 6:2), bahkan untuk menghancurkan kekuasaan maut. (Yes 25:8).
Kebangkitan dapat digunakan sebagai kiasan untuk “pemulihan setelah pembuangan” (Yeh 37:14), tetapi itulah harapan harfiah bagi Israel sebagai suatu bangsa (Dan 12:2) dan terutama bagi orang beriman yang mempunyai jiwa kepahlawanan (2 Mak 7:9.11.23).
II. Kebangkitan Kristus
Kebangkitan Kristus pada hari ketiga setelah Ia wafat dan dimakamkan adalah suatu mujizat yang autentik dalam iman Kristen. Dari masa awalnya, Kebangkitan Kristus dinyatakan sebagai peristiwa historis yang bahkan dibenarkan oleh saksi-saksi dan diwartakan bersama-sama dengan Salib sebagai keyakinan sentral Gereja perdana (1 Kor 15:3-4; bdk Kis 9:13-18). Bangkit dari mati merupakan mujizat Kristus yang terbesar dan bukti yang definitis dari misi perutusanNya. Paulus menulis: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita” (1 Kor 15:17).
A. Kebangkitan sebagai Fakta Historis
Tak satu pun Injil menceritakan tentang proses Kebangkitan itu sendiri, tetapi tak diragukan lagi bahwa Kebangkitan adalah peristiwa historis yang nyata yang terjadi di suatu tempat tertentu dan pada suatu ketika tertentu (Mat 28:1-15; Mrk 16:1-18; Luk 24:1-49; Yoh 20:1-29). Paulus membuat ikhtisar tentang apa yang sudah diketahui jemaat Kristen: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3-4). Paulus selanjutnya menyatakan bahwa Yesus [yang telah bangkit dari mati] kemudian menampakkan diri kepada Kefas (Petrus) dan murid-murid lainnya, kepada lima ratus orang, kepada Yakobus, dan akhirnya kepada Paulus sendiri. Sepanjang Perjanjian Baru, para penulis selalu kembali berkisar pada Kebangkitan (Kis 1:22; 2:14-36; 3:11-26; 4:8-12; 8:37; 10:34-43; 13:16-37; Rm 10:9; 1 Kor 12:3; Ef 5:14; 1 Tim 3:16).
Pernyataan ini dapat dipelajari nilai historisnya. Di masa lalu beberapa sejarawan berusaha memberi penjelasan yang menjauhkan atau menolak historisitas Kebangkitan dengan mengajukan beragam teori (bahwa Kebangkitan hanya tipuan sulap, visiun, simbolisme, atau mati suri); para ahli dan sejarawan yang bertanggungjawab meninggalkan penjelasan-penjelasan alternatif itu sebagai teori yang tidak bisa dipertahankan dan tidak mampu menjelaskan fakta Minggu Paskah dan peristiwa-peristiwa sesudahnya dengan cara yang secara intelektual memuaskan. (KGK 639-644).
Kubur yang kosong itu sendiri bukanlah bukti langsung dari Kebangkitan, karena tidak adanya tubuh Kristus di dalam makam dapat dijelaskan dengan cara lain (bdk Mat 28:11-15; Yoh 20:13). Namun makam yang kosong merupakan momentum utama penemuan dan penerimaan para murid bahwa Tuhan mereka telah bangkit dari mati. Para pengikut wanita-lah yang menemukan makam kosong itu (Mat 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12) dan kemudian menyampaikan berita tentang hal itu kepada para murid, setidaknya dua orang dari mereka lalu pergi sendiri ke sana memeriksa kebenaran berita itu (Luk 24:12; Yoh 20:3-10).
Kristus yang telah bangkit dijumpai oleh banyak saksi, termasuk Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Salome, Petrus dan para rasul, Klopas dan seorang murid lain dari Emaus, Paulus dan lebih dari lima ratus murid lainnya. Perjumpaan ini tidak hanya sekedar melihat; para saksi berbicara dengan Kristus; makan bersama dengan Dia, bahkan menyentuh Dia (Mat 28:9; Luk 24:13-30.36-43; Yoh 20:24-29; 21:4-14). Ketika Paulus menulis, banyak dari antara ratusan saksi itu masih hidup dan masih dapat membenarkan apa yang dikatakan Paulus (1 Kor 15:6). Kebangkitan Kristus bukanlah suatu mitos atau halusinasi. Kebangkitan itu peristiwa nyata, ada saksinya, dan didokumentasikan.
Runtun kronologis kejadiannya sulit dipastikan, sebagian karena minat yang berbeda-beda di antara para penulis Injil. Yohanes dan Lukas menceritakan penampakan Yesus di Yerusalem, sedang Matius dan Markus penampakan Yesus di Galilea. Penulis yang berbeda menggunakan penampakan yang berbeda untuk memberi tekanan pada gagasan teologi tertentu yang hendak mereka sampaikan kepada khalayak mereka masing-masing.
Mula-mula para rasul tidak mengenali Kristus yang bangkit itu (Mrk 16:12; Luk 24:16; Yoh 20:14; 21:4), sesuai dengan kurangnya pengertian mereka dulu, ketika Yesus menyampaikan nubuat tentang kematian dan KebangkitanNya (Mat 16:21; 17:9.23; 20:19; Mrk 8:3; 9:9; 9:31; 10:34; Luk 9:22; 18:33). Barulah mereka paham sepenuhnya mengenai apa yang terjadi setelah Pentakosta. Wafat Kristus membuat sebagian murid sedemikian terguncang sehingga mereka tidak bisa segera memercayai kebenaran bahwa Yesus sudah kembali [hidup lagi]. Tuhan dengan lembut melunakkan kekerasan hati mereka yang tidak memercayai kata-kata dari mereka yang telah melihatNya (Mrk 16:14; bdk Luk 24:38-41).
B. Tubuh Kristus yang Bangkit
Injil-injil menceritakan beberapa mujizat Yesus di mana Ia membangkitkan orang lain dari kematian: puteri Yairus (Mat 9:18-26; Mrk 5:21-42; Luk 8:40-56), anak janda dari Nain (Luk 7:11-17), dan Lazarus (Yoh 11:1-44). Mujizat-mujizat itu tidak setara dengan Kebangkitan Kristus. Penerima daya penyembuh dari Yesus dipulihkan hidupnya seperti semula lagi. Keadaan dijadikan hidup lagi ini berbeda dari keadaan Yesus yang dimuliakan sesudah Kebangkitan dan juga akan berbeda dengan keadaan mereka yang akan dibangkitkan dari kematian [di akhir zaman] nanti.
Kebangkitan Yesus sungguh kebangkitan fisik dan ragawi. Ia bukan roh atau hantu: Ia menampakkan Diri kepada pengikutNya dengan tubuh yang sama ketika ia wafat di kayu salib dan ketika Ia dimakamkan. Selanjutnya Ia dapat menunjukkan kepada mereka luka-luka yang didapatkan pada masa Sengsara-Nya (Luk 24:30.39-40; Yoh 20:20.27; 21:9.13-15) dan ikut makan bersama mereka. Di pihak lain, ia muncul dan menghilang sesuai kehendakNya, dan ia masuk dan meninggalkan ruangan tanpa membuka pintu. TubuhNya yang dibangkitkan masih fisikal, tetapi tidak lagi mengikuti hukum fisika seperti orang-orang lainnya. Dalam Kebangkitan, Kristus tidak hanya mendapatkan kembali jiwaNya atau sekedar dipulihkan badanNya seperti dulu: Ia sudah melampaui kematian kepada suatu keadaan dimuliakan yang penuh dengan kuasa Roh Kudus (1 Kor 15:35-50) dan tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu (bdk 16:2; Yoh 20:14-16) (KGK 645-647).
A.Nilai Teologis Kebangkitan
Kebangkitan Kristus adalah karya ajaib dari Allah Tritunggal di mana “ketiga pribadi Allah bekerja serentak” (KGK 648). Maka di satu pihak kita dapatkan pernyataan-pernyataan dalam Perjanjian Baru bahwa Yesus dibangkitkan dari kematian oleh Allah Bapa (Kis 2:24; Gal 1:1). Di pihak lain, Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia berkuasa untuk menyerahkan dan mengambil kembali hidupNya (Yoh 10:17-18). Paulus menambahkan bahwa Kebangkitan Kristus dari mati adalah “menurut Roh kekudusan” (Rm 1:4).
Dalam hubungan dengan Yesus, mujizat Paskah pagi membuat pernyataan mesianik-Nya menjadi autentik, dengan menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Dia “Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Dalam hubungan dengan kaum beriman, Yesus yang wafat dan bangkit adalah penebusan kita, yang meliputi pengampunan atas segala dosa dan pemberian rahmat kekudusan (Rm 4:25). Kebangkitan kaum beriman sesungguhnya merupakan proses ganda. Yang pertama bersifat sakramental : di dalam baptis kita menerima hidup Yesus yang dibangkitkan, yang memulihkan jiwa dalam keadaan rahmat dan mengatasi garis kebangsaan [menjadi bangsa yang baru, umat Allah] (Rm 6:1-11). Yang kedua bersifat eskatologis: ketika semua orang dibangkitkan nanti (kebangkitan umum), hidup Yesus yang bangkit itu mengangkat badan kita kepada keadaan mulia dan kekal (Rm 8:10-11; 1 Kor 15:35-57). Lintasan ganda dari kematian menuju hidup ini, yang dengan jelas diutarakan oleh Paulus, serupa dengan ajaran tentang kebangkitan yang digemakan oleh tulisan-tulisan Yohanes (Yoh 5:25-29; bdk Why 20:4-5).
III. Kebangkitan Badan
Bertolak dari Kebangkitan Kristus itu (bdk Kis 26:23; Rm 11:15-16), Paulus mengajar: “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:13-14). Menurut Paulus, badan kita akan dibangkitkan (1 Kor 15:20-23), dimulaikan dan dijadikan kekal (1 Kor 15:35-50; juga Rm 8:11; Fl 3:20-21; 1 Tes 4:16-18). Bagi Paulus, menyangkal Kebangkitan sama dengan menolak intisari Injil (1 Kor 15:17-19).
Maka, kebangkitan badan merupakan ajaran bahwa jiwa semua orang, yang baik maupun yang jahat, akan disatukan kembali dengan badan mereka pada Kedatangan yang Kedua dari Kristus, persis menjelang Pengadilan Terakhir. Melalui kuasa Allah, jiwa akan disatukan dengan badan yang sama yang ditempati semasa hidup di dunia – tetapi badan itu sudah dimuliakan, berbeda dari raga duniawi seperti tanaman berbeda dari benihnya (1 Kor 15:37-38). Walaupun semua orang akan dibangkitkan dari kematian, orang benar dan orang “fasik” akan berbeda situasi akhirnya dalam kekekalan. Yang baik akan diikut sertakan dalam kebangkitan hidup, sementara yang jahat akan dibangkitkan demi kebangkitan pengadilan (Dan 12:2; Yoh 5:28-29; Kis 24:15). Kebangkitan bukanlah kembali menjalani hidup duniawi seperti yang kita kenal, melainkan akan masuk ke dalam suatu kemuliaan kekal yang bebas dari segala penderitaan dan maut – penyempurnaan dari kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Yang dibangkitkan akan menikmati suatu keadaan yang sama dengan keadaan tubuh Kristus sendiri yang telah dimuliakan (1 Kor 15:42-44; Flp 3:20-21).
I.Kebangkitan dalam Perjanjian Lama
Di dalam Perjanjian Lama, tempat orang mati disebut Syeol dan digambarkan sebagai suatu tempat di mana orang mati tinggal di tengah kesunyian yang dalam dan kegelapan (Mzm 94:17; Ams 5:5; 7:27) dan tidak ingat kepada Sang Pencipta (Mzm 6:5; 88:12; 15:17). Dalam Perjanjian Lama manusia dianggap terdiri dari campuran jiwa dan badan (Kej 2:7-8), maka kematian berarti kembalinya badan menjadi tanah lagi (Kej 3:19) sedang jiwa yang kekal masuk ke dalam Syeol. Kebangkitan dengan demikian berarti bersatunya lagi badan dan jiwa, masuk kembali dalam realisme hidup.
Baik nabi Elia maupun nabi Elisa membangkitkan orang dari mati (1 Rraj 17:17-24; 2 Raj 4:18-37; 13:20.21). Di luar itu kita tidak mengetahui cerita historis lainnya tentang kebangkitan dari mati dari Perjanjian Lama.
Kebangkitan sebagai suatu ajaran dan harapan untuk masa depan adalah suatu konsep yang dikembangkan secara berangsur-angsur. Dasar dari kebangkitan adalah keyakinan bahwa Allah adalah Tuhan atas hidup dan mati; Ia bisa melakukan dua-duanya, “menghidupkan” atau “mematikan” (Ul 32:39). Ia dapat mengangkat orang dari dalam Syeol (1 2:6; Keb 16:13). Para nabi yang lebih terdahulu sedikit menangkap rencana Allah untuk membangkitkan Israel dari maut (Yes 26:19; Hos 6:2), bahkan untuk menghancurkan kekuasaan maut. (Yes 25:8).
Kebangkitan dapat digunakan sebagai kiasan untuk “pemulihan setelah pembuangan” (Yeh 37:14), tetapi itulah harapan harfiah bagi Israel sebagai suatu bangsa (Dan 12:2) dan terutama bagi orang beriman yang mempunyai jiwa kepahlawanan (2 Mak 7:9.11.23).
II. Kebangkitan Kristus
Kebangkitan Kristus pada hari ketiga setelah Ia wafat dan dimakamkan adalah suatu mujizat yang autentik dalam iman Kristen. Dari masa awalnya, Kebangkitan Kristus dinyatakan sebagai peristiwa historis yang bahkan dibenarkan oleh saksi-saksi dan diwartakan bersama-sama dengan Salib sebagai keyakinan sentral Gereja perdana (1 Kor 15:3-4; bdk Kis 9:13-18). Bangkit dari mati merupakan mujizat Kristus yang terbesar dan bukti yang definitis dari misi perutusanNya. Paulus menulis: “Jika Kristus tidak dibangkitkan, sia-sialah iman kita” (1 Kor 15:17).
A. Kebangkitan sebagai Fakta Historis
Tak satu pun Injil menceritakan tentang proses Kebangkitan itu sendiri, tetapi tak diragukan lagi bahwa Kebangkitan adalah peristiwa historis yang nyata yang terjadi di suatu tempat tertentu dan pada suatu ketika tertentu (Mat 28:1-15; Mrk 16:1-18; Luk 24:1-49; Yoh 20:1-29). Paulus membuat ikhtisar tentang apa yang sudah diketahui jemaat Kristen: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci” (1 Kor 15:3-4). Paulus selanjutnya menyatakan bahwa Yesus [yang telah bangkit dari mati] kemudian menampakkan diri kepada Kefas (Petrus) dan murid-murid lainnya, kepada lima ratus orang, kepada Yakobus, dan akhirnya kepada Paulus sendiri. Sepanjang Perjanjian Baru, para penulis selalu kembali berkisar pada Kebangkitan (Kis 1:22; 2:14-36; 3:11-26; 4:8-12; 8:37; 10:34-43; 13:16-37; Rm 10:9; 1 Kor 12:3; Ef 5:14; 1 Tim 3:16).
Pernyataan ini dapat dipelajari nilai historisnya. Di masa lalu beberapa sejarawan berusaha memberi penjelasan yang menjauhkan atau menolak historisitas Kebangkitan dengan mengajukan beragam teori (bahwa Kebangkitan hanya tipuan sulap, visiun, simbolisme, atau mati suri); para ahli dan sejarawan yang bertanggungjawab meninggalkan penjelasan-penjelasan alternatif itu sebagai teori yang tidak bisa dipertahankan dan tidak mampu menjelaskan fakta Minggu Paskah dan peristiwa-peristiwa sesudahnya dengan cara yang secara intelektual memuaskan. (KGK 639-644).
Kubur yang kosong itu sendiri bukanlah bukti langsung dari Kebangkitan, karena tidak adanya tubuh Kristus di dalam makam dapat dijelaskan dengan cara lain (bdk Mat 28:11-15; Yoh 20:13). Namun makam yang kosong merupakan momentum utama penemuan dan penerimaan para murid bahwa Tuhan mereka telah bangkit dari mati. Para pengikut wanita-lah yang menemukan makam kosong itu (Mat 28:1-10; Mrk 16:1-8; Luk 24:1-12) dan kemudian menyampaikan berita tentang hal itu kepada para murid, setidaknya dua orang dari mereka lalu pergi sendiri ke sana memeriksa kebenaran berita itu (Luk 24:12; Yoh 20:3-10).
Kristus yang telah bangkit dijumpai oleh banyak saksi, termasuk Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus, Salome, Petrus dan para rasul, Klopas dan seorang murid lain dari Emaus, Paulus dan lebih dari lima ratus murid lainnya. Perjumpaan ini tidak hanya sekedar melihat; para saksi berbicara dengan Kristus; makan bersama dengan Dia, bahkan menyentuh Dia (Mat 28:9; Luk 24:13-30.36-43; Yoh 20:24-29; 21:4-14). Ketika Paulus menulis, banyak dari antara ratusan saksi itu masih hidup dan masih dapat membenarkan apa yang dikatakan Paulus (1 Kor 15:6). Kebangkitan Kristus bukanlah suatu mitos atau halusinasi. Kebangkitan itu peristiwa nyata, ada saksinya, dan didokumentasikan.
Runtun kronologis kejadiannya sulit dipastikan, sebagian karena minat yang berbeda-beda di antara para penulis Injil. Yohanes dan Lukas menceritakan penampakan Yesus di Yerusalem, sedang Matius dan Markus penampakan Yesus di Galilea. Penulis yang berbeda menggunakan penampakan yang berbeda untuk memberi tekanan pada gagasan teologi tertentu yang hendak mereka sampaikan kepada khalayak mereka masing-masing.
Mula-mula para rasul tidak mengenali Kristus yang bangkit itu (Mrk 16:12; Luk 24:16; Yoh 20:14; 21:4), sesuai dengan kurangnya pengertian mereka dulu, ketika Yesus menyampaikan nubuat tentang kematian dan KebangkitanNya (Mat 16:21; 17:9.23; 20:19; Mrk 8:3; 9:9; 9:31; 10:34; Luk 9:22; 18:33). Barulah mereka paham sepenuhnya mengenai apa yang terjadi setelah Pentakosta. Wafat Kristus membuat sebagian murid sedemikian terguncang sehingga mereka tidak bisa segera memercayai kebenaran bahwa Yesus sudah kembali [hidup lagi]. Tuhan dengan lembut melunakkan kekerasan hati mereka yang tidak memercayai kata-kata dari mereka yang telah melihatNya (Mrk 16:14; bdk Luk 24:38-41).
B. Tubuh Kristus yang Bangkit
Injil-injil menceritakan beberapa mujizat Yesus di mana Ia membangkitkan orang lain dari kematian: puteri Yairus (Mat 9:18-26; Mrk 5:21-42; Luk 8:40-56), anak janda dari Nain (Luk 7:11-17), dan Lazarus (Yoh 11:1-44). Mujizat-mujizat itu tidak setara dengan Kebangkitan Kristus. Penerima daya penyembuh dari Yesus dipulihkan hidupnya seperti semula lagi. Keadaan dijadikan hidup lagi ini berbeda dari keadaan Yesus yang dimuliakan sesudah Kebangkitan dan juga akan berbeda dengan keadaan mereka yang akan dibangkitkan dari kematian [di akhir zaman] nanti.
Kebangkitan Yesus sungguh kebangkitan fisik dan ragawi. Ia bukan roh atau hantu: Ia menampakkan Diri kepada pengikutNya dengan tubuh yang sama ketika ia wafat di kayu salib dan ketika Ia dimakamkan. Selanjutnya Ia dapat menunjukkan kepada mereka luka-luka yang didapatkan pada masa Sengsara-Nya (Luk 24:30.39-40; Yoh 20:20.27; 21:9.13-15) dan ikut makan bersama mereka. Di pihak lain, ia muncul dan menghilang sesuai kehendakNya, dan ia masuk dan meninggalkan ruangan tanpa membuka pintu. TubuhNya yang dibangkitkan masih fisikal, tetapi tidak lagi mengikuti hukum fisika seperti orang-orang lainnya. Dalam Kebangkitan, Kristus tidak hanya mendapatkan kembali jiwaNya atau sekedar dipulihkan badanNya seperti dulu: Ia sudah melampaui kematian kepada suatu keadaan dimuliakan yang penuh dengan kuasa Roh Kudus (1 Kor 15:35-50) dan tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu (bdk 16:2; Yoh 20:14-16) (KGK 645-647).
A.Nilai Teologis Kebangkitan
Kebangkitan Kristus adalah karya ajaib dari Allah Tritunggal di mana “ketiga pribadi Allah bekerja serentak” (KGK 648). Maka di satu pihak kita dapatkan pernyataan-pernyataan dalam Perjanjian Baru bahwa Yesus dibangkitkan dari kematian oleh Allah Bapa (Kis 2:24; Gal 1:1). Di pihak lain, Yesus sendiri menyatakan bahwa Ia berkuasa untuk menyerahkan dan mengambil kembali hidupNya (Yoh 10:17-18). Paulus menambahkan bahwa Kebangkitan Kristus dari mati adalah “menurut Roh kekudusan” (Rm 1:4).
Dalam hubungan dengan Yesus, mujizat Paskah pagi membuat pernyataan mesianik-Nya menjadi autentik, dengan menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Dia “Tuhan dan Kristus” (Kis 2:36). Dalam hubungan dengan kaum beriman, Yesus yang wafat dan bangkit adalah penebusan kita, yang meliputi pengampunan atas segala dosa dan pemberian rahmat kekudusan (Rm 4:25). Kebangkitan kaum beriman sesungguhnya merupakan proses ganda. Yang pertama bersifat sakramental : di dalam baptis kita menerima hidup Yesus yang dibangkitkan, yang memulihkan jiwa dalam keadaan rahmat dan mengatasi garis kebangsaan [menjadi bangsa yang baru, umat Allah] (Rm 6:1-11). Yang kedua bersifat eskatologis: ketika semua orang dibangkitkan nanti (kebangkitan umum), hidup Yesus yang bangkit itu mengangkat badan kita kepada keadaan mulia dan kekal (Rm 8:10-11; 1 Kor 15:35-57). Lintasan ganda dari kematian menuju hidup ini, yang dengan jelas diutarakan oleh Paulus, serupa dengan ajaran tentang kebangkitan yang digemakan oleh tulisan-tulisan Yohanes (Yoh 5:25-29; bdk Why 20:4-5).
III. Kebangkitan Badan
Bertolak dari Kebangkitan Kristus itu (bdk Kis 26:23; Rm 11:15-16), Paulus mengajar: “Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu” (1 Kor 15:13-14). Menurut Paulus, badan kita akan dibangkitkan (1 Kor 15:20-23), dimulaikan dan dijadikan kekal (1 Kor 15:35-50; juga Rm 8:11; Fl 3:20-21; 1 Tes 4:16-18). Bagi Paulus, menyangkal Kebangkitan sama dengan menolak intisari Injil (1 Kor 15:17-19).
Maka, kebangkitan badan merupakan ajaran bahwa jiwa semua orang, yang baik maupun yang jahat, akan disatukan kembali dengan badan mereka pada Kedatangan yang Kedua dari Kristus, persis menjelang Pengadilan Terakhir. Melalui kuasa Allah, jiwa akan disatukan dengan badan yang sama yang ditempati semasa hidup di dunia – tetapi badan itu sudah dimuliakan, berbeda dari raga duniawi seperti tanaman berbeda dari benihnya (1 Kor 15:37-38). Walaupun semua orang akan dibangkitkan dari kematian, orang benar dan orang “fasik” akan berbeda situasi akhirnya dalam kekekalan. Yang baik akan diikut sertakan dalam kebangkitan hidup, sementara yang jahat akan dibangkitkan demi kebangkitan pengadilan (Dan 12:2; Yoh 5:28-29; Kis 24:15). Kebangkitan bukanlah kembali menjalani hidup duniawi seperti yang kita kenal, melainkan akan masuk ke dalam suatu kemuliaan kekal yang bebas dari segala penderitaan dan maut – penyempurnaan dari kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Yang dibangkitkan akan menikmati suatu keadaan yang sama dengan keadaan tubuh Kristus sendiri yang telah dimuliakan (1 Kor 15:42-44; Flp 3:20-21).
Saduki
Saduki adalah salah satu sekte besar dalam Agama Yahudi Palestina pada zaman Perjanjian Baru. Kaum Saduki mungkin mendapatkan namanya dari Zadok, yaitu imam besar pada zaman Daud dan Salomo, atau mungkin dari kata Ibrani saddiq artinya “benar”. Orang Saduki terutama dikenal melalui sejarawan Yosephus dan Injil Perjanjian Baru serta Kisah Para Rasul. Mereka, bersama dengan kaum Farisi, merupakan salah satu dari dua aliran besar dalam agama Yahudi.
Kaum Saduki adalah elemen elite atau bangsawan dalam agama Yahudi. Pada umumnya mereka anggota kelompok imam dan berasal dari puak-puak keluarga imam yang sangat kuat. Mereka tidak disukai umum karena sikap mereka yang angkuh dan suka mengecam.
Ajaran kaum Saduki berbeda dari kaum Farisi dalam banyak hal. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan orang mati dan tidak percaya akan adanya malaikat serta jiwa (Kis 23:6-8); mereka menolak tradisi lisan dan hanya menghormati wibawa Taurat, hukum yang tertulis. Mereka menolak konsep takdir dan lebih meyakini pilihan bebas, dengan untung atau malang bergantung pada keputusan setiap orang; mereka umumnya lebih konservatif dalam menafsirkan hukum pidana. Dalam Kis 23:6-8, kaum Saduki menjadi anggota Sanhedrin, atau Mahkamah Agama, bersama dengan kaum Farisi, dan Paulus memanfaatkan perbedaan keyakinan mereka mengenai kebangkitan orang mati untuk memprovokasi keributan. Walaupun dalam masyarakat Yahudi, orang Farisi dan Saduki musuh bebuyutan, mereka bersatu ketika berhadapan dengan Yesus (bdk Mat 3:7; 16:1.6.11.12; 22:23.34; Mrk 12:18; Luk 20:27; Kis 4:1; 15:17).
Tidak jelas kapan awalnya sekte Saduki ini muncul. Istilah Saduki disebut-sebut pada masa dinasti Hasmona (tahun 133-63 SM) atau zaman Makabe awal, ketika mereka mendapat tempat dalam Dewan Rakyat (gerousia). Mereka mendapat kehormatan besar melalui Yohanes Hirkanus (memerintah 135-105 SM), yang melepaskan diri dari kaum Farisi dan bergabung dengan kaum Saduki.
Kaum Saduki adalah elemen elite atau bangsawan dalam agama Yahudi. Pada umumnya mereka anggota kelompok imam dan berasal dari puak-puak keluarga imam yang sangat kuat. Mereka tidak disukai umum karena sikap mereka yang angkuh dan suka mengecam.
Ajaran kaum Saduki berbeda dari kaum Farisi dalam banyak hal. Mereka tidak percaya kepada kebangkitan orang mati dan tidak percaya akan adanya malaikat serta jiwa (Kis 23:6-8); mereka menolak tradisi lisan dan hanya menghormati wibawa Taurat, hukum yang tertulis. Mereka menolak konsep takdir dan lebih meyakini pilihan bebas, dengan untung atau malang bergantung pada keputusan setiap orang; mereka umumnya lebih konservatif dalam menafsirkan hukum pidana. Dalam Kis 23:6-8, kaum Saduki menjadi anggota Sanhedrin, atau Mahkamah Agama, bersama dengan kaum Farisi, dan Paulus memanfaatkan perbedaan keyakinan mereka mengenai kebangkitan orang mati untuk memprovokasi keributan. Walaupun dalam masyarakat Yahudi, orang Farisi dan Saduki musuh bebuyutan, mereka bersatu ketika berhadapan dengan Yesus (bdk Mat 3:7; 16:1.6.11.12; 22:23.34; Mrk 12:18; Luk 20:27; Kis 4:1; 15:17).
Tidak jelas kapan awalnya sekte Saduki ini muncul. Istilah Saduki disebut-sebut pada masa dinasti Hasmona (tahun 133-63 SM) atau zaman Makabe awal, ketika mereka mendapat tempat dalam Dewan Rakyat (gerousia). Mereka mendapat kehormatan besar melalui Yohanes Hirkanus (memerintah 135-105 SM), yang melepaskan diri dari kaum Farisi dan bergabung dengan kaum Saduki.
Langganan:
Postingan (Atom)
