Tampilkan postingan dengan label Meditation Mat 10:7-15; Christian Mission; Eucharistic Life; Sacramentum Caritatis 84-86. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meditation Mat 10:7-15; Christian Mission; Eucharistic Life; Sacramentum Caritatis 84-86. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Juli 2010

Kita Diutus Untuk Mewartakan Kasih dan Damai Kristus

Dari Altar Ekaristi Kepada Perjumpaan Sehari-hari dengan Dunia
Menanggapi pesan Injil hari ini, kuusulkan kutipan dari Seruan Apostolik Paus Benediktus XVI Sacramentum Caritatis, 2007, untuk renungan:

Yang dibutuhkan dunia adalah kasih Allah; dunia membutuhkan perjumpaan dengan Kristus dan percaya kepadaNya. Maka Ekaristi yang adalah sumber dan puncak hidup Gereja, juga merupakan sumber dan puncak misinya: “suatu Gereja yang sungguh-sungguh ekaristis adalah Gereja yang misioner” (Proposisi 42, Sidang Umum Biasa ke-11, Sinode Para Uskup, Roma, 2005). Kita harus dapat mewartakan kepada saudara dan saudari kita dengan yakin: “Apa yang telah kami lihat dan yang telah kami dengar itu, kami beritakan kepada kamu juga, supaya kamupun beroleh persekutuan dengan kami” (1 Yoh 1:3) [Sacramentum Caritatis 84]

Semakin besar cinta pada Ekaristi di hati umat Kristen, semakin jelas pengertian mereka akan tujuan seluruh perutusan: menyampaikan Kristus kepada sesama. Bukan suatu teori atau cara hidup yang dijiwai oleh Kristus, namun sungguh-sungguh pribadi-Nya sebagai karunia. Siapapun yang belum berbagi kebenaran kasih ini kepada saudara atau saudarinya belum cukup memberi (Sacramentum Caritatis 86).

Misteri Ekaristi dengan demikian menyembulkan pelayanan kasih kepada sesama, yang “meliputi fakta, bahwa aku, dalam Tuhan dan dengan Tuhan, mengasihi orang yang tidak kusukai atau bahkan yang tidak kukenal. Ini hanya bisa terjadi berdasarkan perjumpaan yang mesra dengan Tuhan, suatu perjumpaan yang menjadi kesatuan kehendak, yang mempengaruhi perasaan-perasaanku. Maka aku belajar memandang orang lain bukan dengan mataku dan perasaanku sendiri, melainkan dari cara Yesus Kristus memandang” (Ensiklik Deus Caritas Est 18). Pada semua orang yang kujumpai, aku menemukan saudara dan saudari yang kepadanya Tuhan telah menyerahkan hidupNya, mengasihi mereka “sampai sehabis-habisnya” (Yoh 13:1). Komunitas kita sewaktu merayakan Ekaristi harus menjadi semakin sadar bahwa korban Kristus adalah untuk semua orang, dan bahwa dengan demikian Ekaristi menuntut kaum beriman agar menjadi “roti yang dipecah-pecahkan” bagi sesama, dan bekerja membangun suatu dunia yang lebih adil dan semakin bersaudara (Sacramentum Caritatis 88).

Rabu, 07 Juli 2010

We Are Sent to Proclaim Love and Peace of Christ

From Eucharistic Altar to Daily Encounters with The World
Corresponds to the message of the Gospel today, I propose the following excerpts from Pope Benedict XVI Apostolic Adhortation Sacramentum Caritatis, 2007, for meditation:

What the world needs is God's love; it needs to encounter Christ and to believe in him. The Eucharist is thus the source and summit not only of the Church's life, but also of her mission: "an authentically eucharistic Church is a missionary Church." (Propositio 42 The Eleventh Ordinary General Assembly of the Synod of Bishops, Roma, 2-23 October 2005). We too must be able to tell our brothers and sisters with conviction: "That which we have seen and heard we proclaim also to you, so that you may have fellowship with us" (1 Jn 1:3). (Sacramentum Caritatis 84)

The more ardent the love for the Eucharist in the hearts of the Christian people, the more clearly will they recognize the goal of all mission: to bring Christ to others. Not just a theory or a way of life inspired by Christ, but the gift of his very person. Anyone who has not shared the truth of love with his brothers and sisters has not yet given enough. (Sacramentum Caritatis 86)

The eucharistic mystery thus gives rise to a service of charity towards neighbour, which "consists in the very fact that, in God and with God, I love even the person whom I do not like or even know. This can only take place on the basis of an intimate encounter with God, an encounter which has become a communion of will, affecting even my feelings. Then I learn to look on this other person not simply with my eyes and my feelings, but from the perspective of Jesus Christ." (Benedict XVI, Encyclical Letter Deus Caritas Est, 18). In all those I meet, I recognize brothers or sisters for whom the Lord gave his life, loving them "to the end" (Jn 13:1). Our communities, when they celebrate the Eucharist, must become ever more conscious that the sacrifice of Christ is for all, and that the Eucharist thus compels all who believe in him to become "bread that is broken" for others, and to work for the building of a more just and fraternal world. (Sacramentum Caritatis 88).