Ensiklik (1) Paus Benediktus XVI
Tahun 2005
Terjemahan: FX Bambang Kussriyanto
Pendahuluan
1. “Allah adalah kasih, barangsiapa berada dalam kasih berada dalam Allah dan Allah berada dalam dia” (1Yoh 4:16). Kata-kata dari Surat Pertama St Yohanes ini menyatakan dengan sangat jelas inti dari iman Kristen: yaitu gambaran Kristen mengenai Allah, dan darinya, gambaran tentang manusia dan tujuan akhirnya. Dalam kalimat yang sama terlebih dahulu St Yohanes juga memberikan kepada kita ikhtisar singkat tentang hidup Kristen: “Kita telah mengenal dan percaya akan kasih Allah kepada kita”.
Kita percaya akan kasih Allah kepada kita, dengan kata-kata ini umat Kristen dapat menyatakan keputusan dasar untuk hidupnya. Pada awalnya, menjadi Kristen bukanlah hasil suatu keinginan etis atau pilihan gagasan yang tepat, melainkan perjumpaan dengan peristiwa, dengan pribadi, yang memberikan kepada hidup ini suatu cakrawala baru atau petunjuk arah yang menentukan. Injil St Yohanes melukiskan peristiwa itu begini: “Allah begitu kasih pada dunia sehingga Ia memberikan putera-Nya yang tunggal, agar barangsiapa percaya kepada-Nya mendapat…. hidup kekal” (Yoh 3:16). Dalam mengakui nilai sentral dari kasih, iman Kristen memertahankan inti iman Israel, sekaligus menambahkan dimensi baru yang dalam dan luas. Orang Yahudi yang saleh setiap hari mendoakan kata-kata Kitab Ulangan yang menyatakan inti hidupnya: “Dengarlah, hai Israel! Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dengan seluruh jiwamu dan dengan seluruh tenagamu” (Ul 6:4-5). Yesus menyatukan dalam perintah mengasihi Tuhan ini perintah untuk mengasihi sesama yang terdapat dalam Kitab Imamat “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Im 19:18; bdk Mrk 12:29-31). Karena Allah lebih dulu mengasihi kita (bdk 1Yoh 4:10), kasih bukan lagi semata-mata perintah, tetapi tanggapan kita pada karunia kasih yang mendekatkan Allah kepada kita.
Dalam suatu dunia di mana tidak jarang nama Allah dikaitkan dengan pembalasan dendam bahkan dengan kebencian dan kekerasan, pesan di atas sungguh tepat dan tentu amat signifikan di masa sekarang. Karena itu, dalam surat Ensiklik yang pertama ini kami ingin berbicara tentang kasih yang dicurahkan Allah kepada kita dan yang selanjutnya harus kita bagikan kepada sesama. Itulah inti bahasan Ensiklik ini yang terdiri dari dua bagian besar, yang saling berkaitan. Bagian yang pertama lebih bersifat permenungan tentang kasih, sebab pada permulaan masa kepausan kami, kami ingin menjelaskan beberapa fakta pokok mengenai kasih yang diberikan Allah kepada manusia dengan rahasia dan bebas, bersama dengan ikatan intrinsik yang terdapat pada Kasih ilahi ini dengan realitas kasih insani. Bagian yang kedua bersifat lebih konkret karena berkenaan dengan kewajiban Gereja melaksanakan kasih pada sesama. Bahasan ini mempunyai implikasi yang luas, sebab pada akhirnya lingkup pelaksanaan kasih akan melampaui lingkup Ensiklik ini sendiri. Kami hendak menekankan beberapa unsur dasar sedemikian agar dunia memperbarui daya dan komitmen di dalam tanggapan insani pada kasih Allah itu.

